data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Minggu, 23 September 2012

Zalim! Densus Tabrak Remaja SMU Saat Beli Es Teh Sebelum Ditangkap.

SOLO (voa-islam.com) - Saat penggrebekan di sejumlah lokasi di Solo, Densus 88 juga menangkap seorang remaja berusia belasan tahun.

Remaja itu bernama Fajar Novianto yang saat ini berusia 18 tahun. Fajar ditangkap saat membeli membeli es teh setelah kelelahan membantu keluarganya melakukan pindahan rumah.

Pasca penangkapan yang dilakukan pada Sabtu (22/9/2012) siang, perwakilan keluarga Fajar mendatangi Polresta Solo. Kedatangan mereka yang didampingi dari Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) dan Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) untuk menanyakan keberadaan Fajar.


JAT datang ke Polres sekaligus untuk menanyakan keberadaan salah seorang anggota mereka bernama Dul Rahman yang juga ikut ditangkap Densus.

Wiwit, bibi Fajar menuturkan, seluruh keluarga Fajar memang sedang disibukkan aktifitas pindahan dari rumah kontrakan di Todipan, Purwosari. Saat itu, Fajar yang masih duduk di kelas III sebuah SMA negeri di Solo ini juga ikut membantu angkut-angkut perabotan.

Fajar yang kehausan lantaran cuaca Solo cukup panas lantas pamit pada orang tua hendak membeli es teh. “Saat membeli es teh, Fajar ditabrak mobil Densus dari belakang. Dia lalu ditangkap dan dibawa masuk ke dalam mobil,” kata Wiwit sambil menangis tersedu-sedu.


Peristiwa itu terjadi saat Fajar melewati gang masuk tak jauh dari rumahnya. Setelah ditabrak, Fajar jatuh tersungkur di tanah. Warga yang mencoba menolong langsung ditodong senjata oleh para anggota Densus diminta untuk tak mendekat.

Wiwit menuturkan, setelah mendengar kabar penangkapan itu kedua orang tua Fajar langsung syok. Mereka khawatir dengan kondisi Fajar jika terjadi sesuatu saat diinterogasi oleh petugas. Karena bingung, ia pun diminta untuk mencari kabar ke polres.
“Keponakan saya itu masih kecil, dia tak tahu apa-apa. Kok bisa-bisanya dikaitkan dengan teroris,” kata Wiwit lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar