data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Minggu, 05 Agustus 2012

FPI Tegur Ustaz Solmed.

Ketua DPD FPI DKI Jakarta Habib Salim Alatas mengkritik keras gaya hidup Ustaz Solmed. Tak tanggung-tanggung Habis Selon biasa Salim disapa menilai Solmed salah kaprah dalam menjalankan ta'aruf.
"Seharusnya seorang ustaz itu tampil dan menunjukkan akhlak sebagai da'i dan ustaz, tidak seperti preman, playboy dan tidak lebay. Sebagai dai itu tidak ada istilah komersil dan sering nongol di televisi," tegas Habib Selon dikutip Merdeka.com, Sabtu (4/8/2012).

Entah tersinggung dengan ucapan itu atau ada alasan lain, Solmed akhirnya memilih mengundurkan diri dari Front Pembela Islam (FPI). Di FPI, Solmed merupakan salah satu petinggi dengan jabatan Wakil Sekretaris Jendral (Wasekjen) DPP FPI.

Lebih mengejutkan adalah pengakuan perempuan bernama Dewi Yuliawati, yang mengaku sebagai mantan istri Solmed. Dewi membuka aib Solmed soal pernikahannya yang kandas. Tapi tudingan itu dibantah mentah-mentah oleh Solmed.

Solmed juga sempat kena semprit Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Pasalnya, acara yang dibawakan oleh Solmed, "Akhirnya Aku Tahu", pada 15 Juli 2012 lalu membahas tentang seks. KPI menilai dialog tersebut terlalu vulgar dan masuk pelanggaran penyiaran seperti pelanggaran atas perlindungan anak, norma kesopanan, pembatasan bincang-bincang seks dan penggolongan program siaran.

"Dialog bermuatan hubungan seks tersebut terjadi antara seorang Ulama (Ustad Solmed) dengan beberapa jamaah yang membahas materi tentang kontrasepsi, hubungan intim suami istri, pembesaran alat kelamin, oral seks dan informasi tata cara hubungan seks lainnya," tulis KPI di website resminya.

Mendapat teguran dari KPI, Solmed tak merasa terganggu karena dirinya hanya mengikuti aturan yang dibuat stasiun televisi. "Saya dakwah tetap dakwah, jadi nggak terganggu. Soal teguran itu urusan TV lah. Pakem KPI kan saya nggak paham, saya hanya paham pakem Alquran dan hadis," ujar Solmed.

Menurut Solmed, yang mengetahui tayangan itu layak atau tidak adalah stasiun televisi itu sendiri. "Saya sudah bilang ke mereka, tema-tema yang sifatnya sensitif, tolong dikaji, layak atau tidak itu Anda (stasiun televisi) yang menentukan," tuturnya.

1 komentar: