data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Jumat, 21 September 2012

Majalah Prancis Menghina Nabi Muhammad SAW

Sekretaris-Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Profesor Ekmeleddin Ihsanoglu, mengutuk keras publikasi kartun Nabi Muhammad di sampul majalah Charlie Hebdo Prancis, yang termasuk dalam edisi editorial yang isinya sangat menyerang dan anti-Islam, Rabu.
 Dalam sebuah tulisan yang sangat kontroversial, Charlie Hebdo, sebuah majalah Prancis dengan mengundang editor tamu yang “diundang” menulis tentang Nabi Muhammad yang sangat menghina, minggu ini. Sampul majalah edisi terbaru, bergambar Nabi Islam mengatakan, “100 cambukan jika anda tidak mati tertawa.” Di halaman belakang majalah, ada gambar Nabi Muhammad dengan hidung merah berbunyi “Ya, Islam sangat bersaing (kompatibel) dengan humor.”
 Profesor Ihsanoglu mengatakan: “Publikasi dari kartun yang menghina oleh majalah – yang memiliki sentimen yang menyerang Muslim melalui publikasi sangat provokatif, dan tidak toleran terhadap Islam dan Muslim – adalah sebuah tindakan keterlaluan dari hasutan, kebencian dan penyalahgunaan kebebasan berekspresi. ”
Dia menambahkan bahwa publikasi kartun Nabi Muhammad sekali lagi, OKI sangat prihatin mengenai meningkatnya Islamophobia di Eropa, yang sedang diabadikan oleh jurnalisme tidak toleran dan membenci-termotivasi oleh organisasi media tertentu, termasuk Charlie Hebdo.
Pada tahun 2007, dua organisasi Muslim Perancis – Masjid Agung Paris dan Persatuan Organisasi Islam Prancis – menggugat Charlie Hebdo atas, “Penghinaan di depan publik terhadap sekelompok orang, karena mereka beragama Islam”, adanya majalah kartun yang dicetak ulang tentang Nabi Muhammad yang awalnya muncul di sebuah surat kabar Denmark pada 2005, dan akhirnya memicu protes dari Muslim di seluruh dunia.
Ihsanoglu mengatakan, para penerbit dan editor majalah Charlie Hebdo harus bertanggung jawab penuh atas kecerobohannya mereka dalam penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad , dan tulisan yang semata-mata atas rasa kebencian dan hasutan dari intoleransi agama.
Namun, kantor Charlie Hebdo itu musnah terbakar akibat bom molotov, pada hari Rabu. “Bangunan ini masih berdiri.Tetapi, sudah tidak ada lagi, barang-barang milik Charlie Hebdo” kata Stephane Charbonnier, editor mingguan Charlie Hebdo, radio Europe 1.
Sebuah sumber polisi yang berbicara dengan Associated Press, kantor Charlie Hebdo itu, terbakar akibat bom molotov, yang terjadi sekitar pukul 1 pagi, dan menambahkan bahwa tidak ada yang terluka.
Direktur majalah, Charb, mengatakan kebakaran tersebut dipicu oleh bom Molotov. Ia menyalahkan orang-orang, yang dia sebut, “radikal, orang bodoh yang tidak tahu Islam,” ujarnya. “Saya berpikir bahwa mereka sendiri kafir … idiot yang mengkhianati agama mereka sendiri,” kata Charb dalam sebuah wawancara dengan Associated Press Television News (APTN).
Charb mengatakan serangan terhadap Charlie Hebdo itu ekses dari kemenangan Partai Islam di Tunisia, dan para pemimpin baru Libya yang ingin menegakkan syariah, atau undang-undang Islam, akan menjadi sumber utama hukum pasca-Gaddafi Libya, tuturnya.
Perdana Menteri Perancis Francois Fillon mengutuk serangan terhadap kantor majalah dan meminta pihak berwenang untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab dan membawa mereka ke pengadilan. “Kebebasan berekspresi merupakan nilai tak terpisahkan dari demokrasi kita … Tidak ada yang bisa membenarkan penyebab aksi kekerasan.,” Kata Fillon dalam sebuah pernyataan Rabu.
Presiden Komunitas Muslim Perancis – yang memimpin sekitar 5 juta orang dan yang terbesar di Eropa Barat – juga mengutuk serangan itu. Mohammed Moussaoui, kepala Dewan Prancis untuk Agama Islam, mengatakan organisasinya juga menyesalkan, “Nada sangat menghina terhadap Islam dan Nabi Muhammad, tetapi menegaskan kembali dengan menolak segala bentuk kekerasan.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar