data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Kamis, 15 Agustus 2013

Syeikh Abdurrahman Uwais, Ahli Tafsir dari Al Azhar yang Syahid di Rab'ah Al Adawiyah

“Bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar-benar taubat dan jauhilah fitnah keji yang dapat menggerogoti jengkalan hati kita. Hasbunallalah wa nikmal wakil, tuu buu ilallah, tsumma tuu buu ilallah", itulah pesan terakhir Prof. Dr. Abdurrahman Uwais, salah satu Masyaikh Al-Azhar yang juga Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur’an di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Dengan suara serak, lembut nan menghujam ia sampaikan khutbah tersebut pada para jamaah Masjid Bawah Imarah (flat beliau), El-Marg Gadidah, Kairo, sehari setelah kudeta Mursi.


Muhibussabri Hamid, Mahasiswa Al-Azhar asal Aceh yang tinggal di rumah Duktur – panggilan untuk Prof. Dr. Abdurrahman Uwais – menerangkan dalam akun facebooknya, Duktur dipastikan meninggal di medan Rab’ah Adawiyah pada Rabu, 14 Agustus 2013. Namun ia belum bisa menjelaskan penyebab secara pasti dan waktu meninggalnya sang Duktur.


Seperti dilansir dari website KMA (Keluarga Mahasiswa Aceh) Mesir,
kmamesir.org, jenazah Prof. Dr. Abdurrahman Uwais telah dipulangkan ke rumah duka pada pukul 23.00 waktu Kairo.

Selama ini, menurut Muhib – sapaan akrab Muhibussabri Hamid – Duktur dikenal dengan kepribadiannya yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar.


“Aku hidup bersamanya dalam tiga huru-hara, mulai dari masa Mubarak, Dr. Mursi dan As-Sisi. Namun yang kurasa adalah sikap dan kepribadian “mengajak  kepada kebaikan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” beliau tetap tidak selangkahpun goyah. Beliau itu sudah berkali-kali keluar masuk penjara, namun Allah Swt. Selalu menyelamatkannya hingga ajal menjemput menemui rabb-Nya kemarin di medan rab’ah”, tulis Muhib dalam catatan facebooknya yang ia tag ke hidayatullah.com, Kamis pagi (15/08/2013).

 Selain itu, semasa hidupnya, Duktur selalu menasehati teman-teman Masisir  (Mahasiswa Indonesia di Mesir) yang tinggal di kontrakannya untuk senantiasa menjaga lidah dan dari keburukan dunia dan akhirat.

“Beliau itu, ayah rohani kami. Ayah yang selalu mengisi hati dengan mutiara suci, mengasah lidah kami dengan zikir dan menutup mulut kami la dunia dan seisinya saling menghujat serta mengkafirkan. Jikalau ada yang bertanya kepadaku kenapa penghuni rumah kami sangat berhati-hati menulis tetang konflik mesir, sepi hujatan-hujatan keji dan pengkafiran  adalah karena beliau selalu menasehati kami untuk menjaga lidah dari  keburukan dunia akhirat”, cerita Muhib.


Muhib juga menceritakan bahwa Duktur merupakan tipikal ulama yang zuhud, ahli ibadah, hafiz dan ahli tafsir. Bacaan disetiap shalat fardhu satu rubu dan setiap tarawih atau witir satu juz dengan bacaan beliau pun sangat lambat demi menjaga tajwid dan harakah agar tidak salah.


“Almarhum sangat zuhud, sederhana dan bersahaja. Aku tidak pernah meilihat beliau berpergian dengan mobil pribadi. Sepertinya beliau tidak punya mobil. Yang terparkir didepan rumah hanya mobil tetangga yang menyewa flat beliau. Berpergian untuk mengajar di Universitas Al-Azhar saja beliau tempuh dengan Metro (kereta api listrik). Tidak ada bedanya dengan kami yang mahasiswa”, terangnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar