data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Selasa, 06 Agustus 2013

Beda dengan Jokowi dan Polda Metro, MUI Serukan Takbir Keliling

Jakarta (SI Online) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) berbeda sikap dengan Gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Polda Metro yang melarang adanya takbir keliling. MUI menilai larangan itu diskriminatif. Sebab takbir keliling adalah bagian dari syiar Islam.

"Imbauan (Polda) ini tidak bijak dan diskriminatif," kata Ketua MUI Pusat KH. A Cholil Ridwan, Senin, 5 Agustus 2013, seperti dikutip Tempo.co.

Kiyai Cholil menjelaskan bukti sikap diskriminatif itu adalah saat umat agama lain merayakan hari rayanya mereka dijaga oleh aparat. Pawai-pawai juga dilakukan.

"Bukti diskriminatifnya yaitu saat perayaan Natal, gereja-gereja dijaga oleh polisi. Sedangkan saat takbiran, umat Islam diimbau untuk tidak takbir keliling. Sebagai umat Islam saya iri," katanya.

Pembahasan takbir keliling dilakukan MUI pada Senin, 5 Agustus 2013. Takbir keliling dianggap sudah menjadi budaya Betawi, Jawa Timur dan beberapa daerah lain di Indonesia.  Menurut Kiyai Cholil, yang terpenting pada saat malam takbiran nanti aparat keamanan tetap menertibkan masyarakat yang takbir keliling.

"Justru tugas polisi untuk mengamankan kegiatan takbir keliling. Jangan sampai gara-gara oknum yang melanggar hukum, Islam jadi korban," kata pengasuh Pesantren Husnayain itu.

Kiyai Cholil menganggap Polda Metro Jaya diskriminatif dengan menghimbau masyarakat takbiran di masjid saja. "Yang takbiran di masjid itu biasanya orang tua. Anak muda mensyiarkan Islam dengan takbir keliling," kata kiyai Cholil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar