data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Rabu, 14 Agustus 2013

Din Syamsuddin, Yusuf Mansyur, dll Menilai Tragedi Mesir Sebagai Permainan Barat.

Tokoh-tokoh Indonesia yang penuh integritas mulai menyuarakan hal yang sebenarnya terjadi di Mesir. Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan kudeta militer Mesir adalah ungkapan ketidaksenangan barat terhadap kebangkitan Islam. Karena terpilihnya Mursi akan berpengaruh kepada kebangkitan Islam. Penurunan Mursi dengan kudeta militer, pembantaian sepihak dan dukungan AS dan Israel adalah bentuk sentimen yang diberikan barat terhadap kalangan islam. Maka, beliau menyebut kudeta Mesir ini ilegal.

Ketua Presidium ICMI Marwah Daud Ibrahim menyebutkan persoalan Mesir jangan dilihat dari masalah intern mereka. Kebangkitan dunia islam akan terus diwaspadai seiring dengan  kebangkitan spiritual yang menyertai bangkitnya Cina dan India. Tentu ini ancaman bagi peradaban global. Sehingga untuk menghambatnya adalah membuat pertikaian antar kelompok. Itu sudah terjadi di Indonesia. Untuk itu solusi cepat bagi dunia islam adalah menghentikan dulu pertikaian antar kelompok.
 
Pengamat Timur Tengah dari LIPI, Hamdan Basyar menuturkan konflik ini buntut dari kudeta terhadap pemimpin yang menurut rakyat sudah sah terpilih secara konstitusional. Karena itu reaksi masa yang menginginkan otoritas Mursi dipulihkan tidak bisa disalahkan. Penyebutan kelompok teroris yang diteruskan dengan pembantaian sepihak oleh militer Mesir tidak bisa dibenarkan. Karena itu berpotensi menimbulkan perang saudara. Sehingga itu adalah kesalahan berkelanjutan setelah kesalahan melakukan kudeta.
 
Sekjen Majelis Intelektual Ulama Indonesia Bachtiar Nasir  mengatakan ada skenario barat dalam penggulingan Mursi. AS dan sekutunya tidak suka dengan kebangkitan islam.  Hal itu dibuktikan dengan penutupan pintu masuk ke Rafah Palestina pasca kudeta Militer.

Bila kita memahami frame berpikir ini, maka tampak jelas didepan mata kita; bagaimana pentingnya pemulihan krisis Mesir ini secara global. Karena bila barisan Mursi lemah dan kalah, maka hal serupa akan terus berjalan kepada semua dunia ketiga yang akan bangkit. Artinya itu akan berdampak besar bagi peta politik bangsa Indonesia juga. Siapa yang bisa mengambil arah sejarah yang benar, maka dia yang akan mewarisi kegemilangan masa depan.

Jadi, krisis Mesir bukanlah permainan kecil yang bisa kita abaikan. Kita, demokrasi kita dan bangsa ini harus mengambil celah sejarah ini bila ingin maju dan tumbuh sebagaimana Cina dan India yang sudah bersiap menjadi pilar kebangkitan gemilangnya peradaban baru yang lebih sehat, produktif dan maju.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar