data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Senin, 08 April 2013

Mungkinkah Mafia Narkoba Menguasai Indonesia Seperti Mexico?.

Akankah Indonesia  menjadi seperti Mexico? Di mana mafia dan bos kartel narkoba mengalahkan negara. Negara menjadi lumpuh. Tidak berdaya menghadapi jaringan mafia narkoba.

Jaringan kartel narkoba sudah begitu luas. Sehingga, kekuatan negara tak mampu menghadapi mereka. Ditambah, adanya main mata, antara aparat penegak hukum, dan sejumlah penjabat dengan para gembong narkoba.

Para bos kartel narkoba itu, mereka memiliki ladang-ladang yang luas di seantero pegunungan Mexico, mereka sudah memiliki pabrik guna memproses narkoba. Mereka memiliki pesawat dan kapal sendiri.
Mereka mengirimkan barang "haram" itu ke berbagai negara dengan menggunakan sarana-sarana mereka miliki. Mereka memiliki bank sendiri, guna menampung uang dari dari penjualan narkoba.

Tentu, bagi pemerintah  Mexico yang paling masygul, di mana para bos kartel narkoba itu, mereka membentuk pasukan militer, dan dilengkapi dengan berbagai jenis senjata mutakhir. Bukan hanya digunakan melawan pasukan pemerintah. Tetapi, kalangan kartel narkoba itu, berperang melawan sesama jaringan narkoba di Mexico. Sehingga, Mexico terus dilanda kekacauan, dan perang antara pemerintah melawan pasukan kartel obat bius,dan perang diantara mereka sendiri.

Di Indonesia pengguna terus bertambah luas. Dahulu yang menjadi pusat narkoba di "Segitiga emas", yang berpusat di Thailand. Tetapi, karena pemerintah Thailand melakukan pengetatan, sekarang berpindah ke Indonesia. Di Indonesia perdagangan narkoba sudah sangat luas. Peredaran sudah sampai di gang-gang di kampung.

Bandara  dan pelabuhan begitu mudah masuk barang "haram" dari manca negara, seperti Malaysia, Hongkong, Singapura, Bangkok, Australia, dan sejumlah negara lainnya. Karena para pejabat dan pengawas di Bandara dan Pelabuhan dengan sangat mudah, mereka bisa disuap.

Bahkan, di penjara-penjara menjadi pusat peredaran dan pengendalian, bisnis narkoba. Ini tidak mungkin bisa terjadi tanpa adanya keterlibatan oknum-oknum aparat penegak hukum, yang memberikan  keleluasaan kepada para bandar narkoba yang sekarang sudah berada dalam penjara. Sehingga, mereka dapat dengan leluasa melakukan aktitivitas bisnis narkoba.

Apartemen banyak yang menjadi pusat pembuatan narkoba. Sudah berapa banyak narkoba yang diproses di apartemen oleh para bos narkoba  di Jakarta  ini. Tanpa ada kecurigaan apapun terhadap mereka. Belum lagi, tempat hiburan, sekarang menjadi pusat perederan narkoba. Tidak sedikit dikalangan artis yang menjadi pengguna narkoba.

Sekarang Indonesia sudah menempati urutan nomor tiga dalam hal perdagangan narkoba dunia. Hampir menyamai Mexico. Perederannya dan perdagangan sudah sangat luas. Tak habis-habis. Jutaan orang Indonesia menjadi pengguna narkoba. Indonesia menjadi pasar baru bagi perdagangan narkoba. Dengan jumlah penduduk 240 juta, dan anak-anak muda, serta terjadinya "baby boom", sekarang ini, Indonesia menjadi pasar yang menarik.

Rumah-rumah eksklusif di pinggir pantai, berupa vila dan apartemen, tidak luput menjadi tempat penyelundupan narkoba. Indonesia sebenarnya menjadi negara dalam keadaan bahaya "state emergency". Karena sudah begitu luasnya peredaran narkoba. Generasi muda yang baru banyak yang menjadi generasi yang "teler".

Nantinya generasi baru di Indonesia akan mengalami kondisi yang sangat suram. Mereka miskin, dicekoki narkoba, dan sudah kehilangan kesadaran, lemah, dan tidak memiliki gairah hidup, dan ini menjadi fenomena di kota-kota besar. Sekalipun sudah dibentuk oleh kepolisan yaitu BNN (Badan Nasional Narkotika), yang bertujuan memberantas narkoba, tetapi buktinya tak pernah habis, dan bahkan berkembang biak.

Di Mexico, Presiden Enrique Pena Nieto mengumumkan rencana negeri itu membentuk satuan kepolisian baru untuk memerangi kejahatan dan kartel-kartel obat bius. Pasukan polisi itu, yang mengambil model pasukan Guardia Civil Spanyol, akan beranggotakan 10.000 personil yang tangguh. Meksiko saat ini memiliki satuan kepolisian kota, negara bagian dan kepolisian nasional.

"Meksiko menginginkan kedamaian," ujar presiden baru itu saat memberikan sambutan dalam pertemuan kabinet, para gubernur, parlemen dan hakim ditambah para pengamat HAM.

"Prioritasnya, adalah mengurangi angka pembunuhan, penculikan dan pemerasan," lanjut Nieto. Enam poin strategi Presiden Nieto termasuk memperbarui pasukan keamanan yang selama ini terbagi dalam lima wilayah operasi. Selain berencana membantuk satuan kepolisian baru, Presiden Nieto juga menganggarkan 8,8 miliar dollar AS untuk program sosial yang ditujukan untuk mencegah kejahatan.

Nieto dilantik menjadi presiden pada 1 Desember 2012, menggantikan Felipe Calderon dari Partai Aksi Nasional (PAN). Sesuai undang-undang Meksiko, presiden memiliki masa jabatan enam tahun dan tak bisa dipilih lagi.

Selama pemerintahan Felipe Calderon yang mencanangkan perang melawan kartel obat bius mengakibatkan setidaknya 60.000 orang tewas. Padahal, pemerintah sudah mengerahkan militer untuk memerangi geng-geng narkoba. Apa yang terjadi di Mexico sudah mirip di Indonesia. Begitu banyak peredaran narkoba, dan berbagai kelompok geng sudah terlibat dalam bisnis ini.

Militer Meksiko menjalankan operasi anti-kartel sangat luas, sampai menjangkau seluruh Mexico.Tetapi para jaringan kartel obat bius di Mecxico itu, mereka sudah memiliki pasukan bersenjata, maka militer Mexico menjadi kewalahan menghadapi mereka. Hasil penjualan obat bius alias narkoba itu,mereka gunakan membeli alat-alat militer melawan pasukan pemerintah.

Betapa bahayanya jaringan kartel yang sudah menjadi kekuatan mafia dan memiliki jaringan yang sangat luas seperti Mexico, dan negara harus mengeluarkan anggaran yang sangat besar. Tidak mudah membasmi kartel obat bius yang sudah melibatkan elemen yang begitu luas, baik aparat, pejbata, dan sebagian rakyat yang hidupnya dari perederan obat bius.

Indonesia pemerintahnya sangat lemah dalam melawan jaringan narkoba. Seperti yang ditunjukkan oleh Presiden SBY, yang memberikan grasi kepada "Ratu Marijuana" dari Australia, Corby.

Ini menjadi preseden yang buruk, di mana seorang Presiden memberikan grasi kepada "Ratu Marijuana". Dampaknya semakin lemah dalam pemberantasan obat terlarang, narkoba. Ini benar-benar menjadi ancaman masa depan Indonesia. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar