data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Sabtu, 27 April 2013

Dia, Gue, Loe adalah Saudara.

dakwatuna.com - Kata sahabat adalah sebuah kata yang menggambarkan ikatan antara seseorang dengan orang lain yang memiliki makna khusus di dalamnya. Biasanya kata sahabat dikenakan untuk seseorang yang dekat dalam kehidupannya, menjadi kawan seperjuangan dalam masanya, menjadi tempat tumpah kisah di dalamnya, menjadi semangat dalam kelemahannya dan menjadi makna kala dalam kehilafnya. Jika dalam lirik lagu Nidji sahabat dikatakan “kau adalah tempatku membagi kisahku kau sempurna jadi bagian hidupku apapun kekuranganmu”.

Dalam kehidupan ini pun kita memiliki bagian lain dari dimensi persahabatan yang memiliki nilai mulia di sisi Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dimensi itu ialah dimensi persaudaraan. Sebetulnya bagaimana makna saudara itu? Secara literatur bahasa Indonesia, saudara itu mengandung makna orang yang seibu seayah; adik atau kakak; orang yang bertalian keluarga dan sanak. Artinya bahwa makna saudara itu harus memiliki ikatan darah atau nasab keturunan Mereka Lah Mutiara di dunia dalam hubungan keluarga kandung.

Di dalam Al Qur’an Allah Berfirman “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. Alhujurat 10) dalam ayat ini kata saudara menggunakan kata ikhwah yang mengandung makna saudara sekandung yang memiliki hubungan dan ikatan darah. Kita bisa menyimpulkan bahwa kata ikhwah itu mengandung makna yang sangat luas dan dalam. Menepiskan pemaknaan yang manusia berikan pada umumnya. Makna saudara yang memuat dunia dan seisinya, karena kita muslim, dan setiap muslim bagaikan satu bangunan yang kokoh yang Allah ikatkan dengan ikatan Aqidah yang kuat dan sungguh mahal. Bahkan meskipun kita membelanjakan semua kekayaan di muka bumi, persaudaraan itu sangatlah berat. Maka ikatan persaudaraan itulah yang membuat kita semua menjadi kuat.

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63)

Inilah bukti nyata atas nikmat yang Allah anugerahkan kepada orang-orang beriman, makna saudara itu langsung Allah berikan pemaknaannya kepada kita semua. Bersaudara karena iman dalam satu ikatan aqidah yang sama untuk Allah satu satunya.

Rasulullah pun menyampaikan makna saudara dan menegaskan apa yang telah Allah Firmankan di dalam Al Qur’an. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Aku sangat ingin sekiranya aku bisa melihat saudara-saudaraku”. Para sahabat berkata, “Bukankah kami ini saudara-saudara engkau wahai Rasulullah?”

Rasul SAW lalu menjawab, “Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku tetapi belum pernah melihatku”.

Maka mari kita rapatkan kembali ruh juang Al Islam yang telah menyatukan kita dalam ikatan yang istimewa, dalam ikatan persaudaraan yang indah. Maka kita semua lah saudara yang pernah Rasulullah sampaikan kepada para sahabat. Dan yakinlah bahwa kelak Allah SWT akan mempertemukan kembali kita semua bersama-sama.

Dalam riwayatnya (imam muslim) kemudian para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana kelak engkau bisa mengenali bahwa mereka yang akan datang belakangan itu adalah umat engkau”.

Rasul SAW menjawab, “Bagaimana menurutmu jika seseorang memiliki kuda yang dahinya putih bercahaya dan berada di tengah-tengah kuda-kuda lain yang semuanya hitam kelam pekat, tidakkah ia tahu yang mana kudanya?”

Para sahabat menjawab, “Tentu wahai Rasulullah” Rasulullah SAW melanjutkan, “Begitulah mereka saudaraku itu, kelak mereka datang dalam keadaan bercahaya wajahnya dan putih pada daerah bekas-bekas wudhunya”.

Sungguh dalam ikatan iman, kita adalah saudara dan akan dipertemukan kembali kelak di yaumil akhir dan Rasulullah pun mengenali kita meski dimensi waktu memisahkan kita semua saat ini. ”Ruh-ruh itu bagaikan prajurit yang selalu bersiap siaga. Maka siapa yang mengenalnya ia akan bersatu dan jika tidak mengenalnya akan berpecah.” (HR. Bukhari Muslim).

So, gue, dia, dan loe adalah saudara. Wallahu’alam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar