data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Minggu, 14 April 2013

Mau Pasangan Yang Sholih? Jadi Sholihah Duluan!

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216).

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)“. (QS An-Nur: 26).

DUA AYAT ini menjadi ayat wajib untuk direnungi dalam proses pencarian jodoh dan mempertahankan jodoh.  Tapi  kita terkadang lupa mengukur diri sendiri dan yakin  se“pede-pede” nya bahwa diri ini adalah orang baik-baik. Sebagaimana yang dituliskan dalam QS. An-Nur: 26, tanpa belajar apa yang dimaksud Allah dengan wanita baik dan wanita keji atau laki-laki baik dan laki-laki keji?

Mari kita mulai berpikir dan mengukur diri. Sudah baik kah saya sehingga saya pantas dapat pasangan yang baik? Ketika kita sudah memiliki pasangan yang baik, mampukah kita untuk menjaga kebaikan kita sehingga kita tetap “pantas” untuk bersanding dengannya?

Siapa sih perempuan yang tidak ingin suaminya baik, yang sholih, yang bisa menjadi imam dalam keluarga, membimbing dalam ibadah, dan bergandengan tangan menuju surga Allah? Tidak mungkin ada yang menolak suami dengan kualitas seperti ini kan?

Siapa sih laki-laki yang tidak ingin istrinya manis, sholihah, menyenangkan bila dipandang, lembut hatinya, dan mampu menjadi Ibu yang mampu menjadi madrasah bagi anak-anak nantinya? Ada yang tidak mau punya istri seperti ini kah?

Ayat di atas memberitahu kita bahwa Allah memberikan pasangan yang se-kufu dalam tingkat ketakwaan kepada Allah. Kalau ingin laki-laki sholih, harus jadi perempuan yang sholihah. Begitupun sebaliknya.
Dalam prosesnya bisa jadi ada sandungan-sandungan di luar kendali kita karena ketidakmampuan kita menahan diri atau kekurangan kita dalam berilmu.  Namun yakinlah, ketika kita bertobat, bangkit dan berusaha selalu memperbaiki diri, maka Allah akan selalu menjaga kita.

Ada kalanya kita mengalami kendala dalam proses menemukan jodoh, entah tidak jadi menikah, atau bahkan memang belum pernah menemukan kunci masuk proses sama sekali. Namun, yakinlah ketika kita tetap berusaha mendekatkan diri pada Allah, bila Allah menunda memberikan jodoh bukan karena Allah, tapi Allah mencintai kita dan ingin kita mendapatkan jodoh yang terbaik. Dengan “waktu tunggu lebih” yang dimiliki, kita diberi kesempatan lebih banyak untuk bisa memperbaiki kualitas diri sehingga bisa mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari keadaan diri kita saat ini.

Ada kalanya kita menghadapi banyak ombak untuk mempertahankan bahtera rumah tangga.  Entah karena keegoisan diri, kecemburuan yang tidak pada tempatnya, atau bahkan yang lebih sulit adalah ketidakseimbangan dalam proses “mendekati” Allah yang mengakibatkan visi misi rumah tangga pun bisa jadi berubah dan terasa tak sejalan.

Ketika sang suami makin sholih, maka didik dan ajak dan gandenglah istri tercinta untuk mengikuti kesholihannya. Ketika sang istri makin sholihah, ajak dan gandeng dengan mesra sang suami untuk bersama makin dekat dengan Allah sehingga bisa selalu seiring sejalan.

Mau dapat pasangan yang baik, jadi baik dulu. Pasangan makin baik, kejar kebaikannya hingga kita selalu pantas bersamanya.

Mau dapat pasangan yang sholih, jadi sholihah dulu. Pasangan makin sholih, raih tangannya, jangan sampai tertinggal jadi orang sholih.

Ukur diri, bertaubat, perbaiki dan berproses menjadi lebih baik tiap waktu. Mendekat dan makin mendekat pada Allah. Mencintai Allah dan menjauhi apa-apa yang tidak disukai Allah.
Maka nikmat Allah apa yang mau kamu dustai? Allah akan selalu memberikan yang terbaik. Itu Pasti! Ya Allah, bimbinglah kami.

Oleh: Poppy Yuditya(Mahasiswi FTUI Jurusan Teknik Mesin/Industri)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar