data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Sabtu, 13 April 2013

Janda, Memang Kenapa?.

Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatunya berpasangan, ada wanita ada pria, ada siang ada malam, ada yang menikah ada yang janda atau duda………

Lalu kalau ada Janda…, memang kenapa? Toh tidak seorangpun wanita yang ingin menjadi Janda. Konsekuensi yang ditimbulkannya sungguh berat, dalam segala hal, baik secara material atau spiritual.

Janda adalah sebuah predikat bagi seorang wanita yang tak lagi bersuami, baik karena ditinggal mati oleh suami atau akibat dari perceraian. Dalam kehidupan sosial predikat janda cerai kerap menimbulkan ‘hambatan psikologis’ dalam kehidupan sehari-hari. Karena cerai umumnya diasumsikan sebagai langkah akhir dari sebuah peristiwa huru-hara dalam keluarga. Apapun masalahnya, apapun penyebabnya, siapapun pembuat ulahnya, masyarakat akan sepakat memberikan kesimpulan, kedua belah pihak memiliki andil yang sama akan kehancuran bahtera rumah tangga tersebut, gonjang-ganjing yang merupakan ruang private dalam rumah tangga ini, pada mereka yang menjadi „selebrita“ tak urung akan menjadi pembicaraan publik, sehingga lebih memberatkan beban psikis sang Janda kelak. 

Lain halnya dengan istri yang ditinggal mati sang suami. Meskipun beban yang dipikul mungkin sama saja beratnya dengan akibat perceraian, tetapi masyarakat masih lebih menberikan rasa simpatik.
Fenomena Janda.

Janda dalam masyarakat, menimbulkan fenomena tersendiri, berapa banyak tulisan telah dibuat dengan mengangkat tema janda, baik itu cerpen, cerbung, novel hingga film. Mulai dari jenis „kepahlawanan“ perjuangan mengalahkan tantangan hidup, sesuatu yang miring, hingga anekdot-anekdot yang tidak lucu, merendahkan dan pelecehan sarkastis tentang kondisi janda.

Dalam konteknya dengan kemajuan arus informasi, posisi janda tetap mengundang sesuatu yang wah…, liat saja misalnya pada media komunitas Friendster, twitter, Facebook dll. Cukup marak diwarnai perempuan yang menyandang status janda. Mereka gencar berburu pendamping hidup melalui dunia maya. Pada satu sisi langkah ini cukup cerdik, karena dapat meminimalisir gunjingan dan stigma negative lingkungan ketika Janda mencoba mendekati pria yang kelak diharapkan menjadi suami, tetapi tidak sedikit, ajang ini dimanfaatkan sebagai perburuan yang “lain”, baik oleh sang Janda maupun oleh sang “Calon suami”, indikasinya, sangat jelas terlihat dengan tampilan yang terlihat kasat mata, maupun dari bahasa yang dilontarkan. Sekali lagi Janda menjadi korban stigma yang kadung melekat di masyarakat.

Padahal tanpa stigma itupun, kehidupan Janda sudah sungguh berat, disamping harus menghidupi diri sendiri, juga harus menghidupi anak-anak, bertindak sebagai ibu sekaligus sebagai Ayah, belum lagi bagi yang berusia belum tua-tua amat, masalah kebutuhan rohani menjadi masalah sendiri. 

Melihat fenomena Janda ini, sudah saatnya ada gerakan dalam masyarakat untuk, secara serius memikirkan nasib Janda ini, karena harus diakui mereka adalah bagian dari kita semua, mungkin saja, mereka adalah bibi kita, keponakan kita, tetangga kita, atau paling tidak, jenis kelamin mereka sama dengan ibu kita yang telah melahirkan kita.
Sebuah solusi.

Sebagai sebuah fenomena, maka solusi yang dapat dilakukan diantaranya.

Pertama, mulai dibentuk kesadaran dimasyarakat untuk tidak menggampangkan perihal perceraian, akibat yang ditimbulkan dari cerai sungguh menimbulkan efek negatife yang luar biasa, nasib anak-anak yang orang tuanya bercerai akan mempengaruhi masa depan mereka, meskipun mungkin saja secara finansiel kebutuhan akan masa depan mereka dapat terpenuhi, tetapi luka psikis yang diakibatkan perceraian orang tua, bukan masalah sederhana yang begitu saja bisa dihapuskan

Kedua, Hilangkan fenomena nikah siri, semua pernikahan yang dilakukan untuk yang kedua atau ketiga atau seterusnya, dilakukan seperti nikah yang pertama, dengan segala konsekuensi hukum yang sama dengan pernikahan pertama, sehingga dengan demikian, fenomena mudahnya perceraian pada pernikahan yang kedua, ketiga seterusnya tidak terjadi lagi. Kalaupun terjadi perceraian, maka nasib wanita yang diceraikan tidak menjadi pihak yang dirugikan, mereka dapat memperoleh apa yang menjadi haknya, baik itu perihal gono-gini, ataupun tunjangan pendidikan dan biaya lain untuk anak-anaknya.

Ketiga, persulit perkara gugatan cerai. Sudah menjadi hukum alam, bahwa pernikahan yang dilakukan, tidak ada jaminan akan selamat hingga akhir hayat, banyak factor yang dapat menghancurkannya, tetapi bukan berarti setiap masalah dapat dijadikan alasan untuk melakukan percerian, hanya untuk alasan yang sangat kuat perceraian dapat dilakukan, oleh karenanya, mesti dipikirkan sebuah system yang dapat mempersulit terjadinya perceraian.

Keempat, hilangkan pelarangan polygamy. Sebagai konsekwensi, dari samanya dalam pandangan hukum kedudukan antara istri pertama dengan istri kedua, ketida dan selnjutnya, maka pelarangan untuk polygamy bagi PNS hendaknya segera dicabut, karena hanya orang-orang yang berkebutuhan khusus dan memiliki kemampuan khusus yang berani melakukan polygamy, tokh sebenarnya, masyarakat juga mengakui bahwa polygami sebenarnya tidak dapat dilakukan setiap orang, kecuali mereka yang “khusus” tadi.

Akhirnya, tak ada gading yang tak retak, masih banyak solusi yang dapat ditawarkan, sehingga masyarakat dapat berkontribusi bagi kesejahteraan Janda, terutama bagi kelangsungan generasi yang menjadi tanggung jawab Janda-Janda itu, silahkan pembaca tambahkan sendiri point-point berikutnya………………….. InsyaAllah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar