data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Kamis, 04 April 2013

Apa Kabar Rifqa Bary, Murtad Melalui Facebook?

HATI-hati jika membiarkan anak Anda yang Muslim, yang masih ABG dan labil, bercengkerama di dunia maya, khususnya situs jejaring sosial seperti Facebook.

Brian Williams tidak yakin apa yang membuat temannya bercerita. Ia bertemu Rifqa Bary, seorang siswa SMA dari Gahanna, Ohio, di sebuah gereja di Universitas Ohio State akhir tahun lalu. Rifqa sangat santun dan sangat ingin tahu, ia menceritakan bahwa ia datang dari keluarga Muslim, tetapi ia telah menjadi Kristen. Orang tuanya murka. Menurut Rifqa, dia harus menyembunyikan keyakinan barunya, menyembunyikan Alkitab, dan menyelinap pergi untuk ke gereja. Rifqa menuduh orang tuanya: akan membunuhnya karena ia beralih ke agama Kristen.

Kasus Rifqa Bary sedang hangat di pengadilan Florida, AS. Rifqa berusia 17, dan jelas masih tinggal bersama keluarga angkatnya di Orlando. Kasusnya telah jauh melampaui dinding-dinding ruang sidang dan meningkat menjadi bentrokan agama yang mematikan.

Dia diwakili oleh John Stemberger, seorang Kristen konservatif, pengacara yang terlibat dalam perselisihan Terri Schiavo, wanita Florida yang terus hidup dengan selang sampai diputus pada tahun 2005. Dia dan berbagai kelompok sayap kanan telah medukung Rifqa menuntut orang tuanya sendiri dan sebuah masjid yang mereka hadiri di Columbus, Ohio. Namun Krista Bartholomew, wali Rifqa untuk peradilan ini, mengatakan dalam sidang Kamis lalu, “Ini bukan perang suci. Ini adalah sebuah kasus tentang seorang gadis kecil yangketakutan dan keluarga yang tengah hancur. ”

Keluarga Imigran

Mohamed dan Aysha Bary meninggalkan Sri Lanka pada 2000 dengan dua anak mereka, Rifqa dan seorang kakak laki-lakinya. Mereka pindah ke New York (anak ketiga mereka, seorang anak laki-laki, lahir di Amerika Serikat). Alasan imigrasi ini karena mereka khawatir kesehatan Rifqa. Ketika masih kecil, Rifqa tertimpa sebuah mainan pesawat yang menusuk mata kanannya. Para dokter di Sri Lanka menganjurkan seluruh keluarga itu untuk pindah ke AS sehingga Rifqa dapat memperoleh perawatan medis yang lebih baik. Pada akhirnya, matanya diselamatkan.

Kemudian, pada tahun 2004, Mohamed pindah lagi, kali ini untuk mencari pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Ia menetap di daerah Columbus, yang mempunyai peringkat tinggi secara akademik. Di New Albany High School, Rifqa menjadi anak yang pintar. Dia medapatkan rata-rata nilai 3,5 dan menjadi anggota tim pemandu sorak. Mohamed “sangat bangga pada anak-anaknya,” kata Gary Abbott, sahabat karibnya di Amerika Serikat (dan seorang Kristen). “Dia memperjuangkan hidup anak-anaknya lebih daripada hidupnya sendiri.”

Awal Persinggungan Rifqa dengan Kristen

Segera setelah tiba di Ohio, Rifqa mulai mengenal dan bertanya-tanya tentang kekristenan. Mohamed mengatakan keluarganya tidak intens datang ke masjid, karena jadwal perjalanannya sebagai pedagang permata. Menurut Jamal Jivanjee, Rifqa pertama kali belajar tentang Yesus Kristus dari seorang gadis di SMP yang sama dengannya. Gagasan bahwa “Anda bisa memiliki hubungan dengan Tuhan adalah konsep yang sangat menarik baginya,” kata Jivanjee. Pada tahun 2005, Rifqa menjadi seorang Kristen di Gereja Methodis Amerika korea di Columbus, sesuai dengan surat pernyataan yang diajukan oleh pengacaranya.
Rifqa secara teratur menghadiri kelompok doa dan berpartisipasi dalam kehidupan pro-aborsi di klinik. Dia juga berhubungan dengan orang-orang Kristen yang baru secara online, melalui kelompok-kelompok keagamaan seperti Doa Amerika Serikat di Facebook. “Internet menjadi gereja-nya,” kata Williams, yang menyebut Rifqa yang paling bersemangat.

Pada bulan Agustus 2008, Rifqa mengirim e-mail ke Jivanjee, ia menggambarkan orang tuanya sebagai ” Muslim yang taat” dan menulis bahwa setelah beralih menjadi pemeluk Kristen pada usia 13 tahun, “tentu saja aku tidak bisa memberitahu mereka. Di mana aku tinggal dan pergi?”

Mohamed mengatakan perilaku Rifqa mulai berubah lebih keras di awal musim panas ini. Ia menjadi sering menarik diri, nyaris tidak berbicara padanya ketika mereka pergi ke suatu tempat secara bersama-sama. Ibu Rifqa, sering menemukan buku-buku tertentu yang dibaca oleh anaknya itu, seperti Islam Radikal dan beberapa yang lainnya. Ketika itu, Aisya mengatakan kepada suaminya bahwa anak mereka harus dikirim ke Sri Lanka untuk ditangani atau menjauhkannya dari komunitas dengan siapa Rifqa bergaul. Yang paling membuat Mohamed khawatir ketika itu adalah intensitas Rifqa di Facebook.

Dari Facebook, ia juga mendapatkan sedikitnya enam atau tujuh orang yang siap menampungnya. Ia yakin bahwa ayahnya akan membunuhnya jika mengetahui ia telah menjadi seorang Kristen.

Pada 19 Juli, Rifqa pergi dari rumahnya ke Orlando. Ia ingin dibaptis di gereja Gereja Revolusi Global evangelis-Beverly, dari gereja ini sebagian orang telah menjalin komunikasi dengannya di Facebook.

Ketika orang tuanya tahu anaknya hilang, mereka panik. Mereka mengajukan laporan orang hilang pada kepolisian Columbus polisi dan mengulurkan meminta bantuan pada banyak pihak. Pada 5 Agustus, setelah lebih dari dua minggu—kepolisian Columbus mewawancarainya melalui telepon dna Rifqa berada di Kansas.

Kasus Rifqa banyak muncul di YouTube. Pengadilan setuju untuk membiarkan Rifqa tinggal bersama keluarga angkat. Tetapi untuk sekarang, negara bagian Florida memiliki hak asuh atas dirinya.

“Ini sangat sulit bagi kami untuk percaya bahwa telah sejauh ini,” kata Mohamed. “Kami mencintainya, kami ingin dia kembali.” [sa/islampos/newsweek]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar