data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Kamis, 21 Maret 2013

Sehitlik Moschee, Kebesaran Allah Di Sudut Berlin.

ADA BANYAK hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam pikiran saya ketika Allah memberi kesempatan mengeja hari-hari kami di belahan bumi yang minoritas muslim. Seperti yang terjadi pada saat kami takziyah ke suatu tempat di mana akan diselenggarakan shalat jenazah berikut pemakaman seorang muslim asal Indonesia yang telah lama menetap di Berlin. Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti prosesi pemakaman seorang muslim di negeri orang dan untuk pertama kali pula mengunjungi tempat tersebut.

“Subhanallah!” hanya kata itu yang sanggup terucap ketika memasuki pintu gerbang yang kami tuju. Rasanya tak percaya memandang apa yang ada di hadapan saya. Penuh rasa takjub saya tatap lama bangunan berwarna putih berkubah abu-abu yang diapit dua menara menjulang sekitar 30 meter itu. Rasa haru terasa menyelimuti hati karena semenjak kami tinggal di Berlin, baru saat itu menyaksikan sebuah masjid benar-benar dalam bentuk sebagaimana lazimnya. Selama ini masjid-masjid yang pernah kami datangi di sana, bentuknya tak berbeda dengan tempat tinggal karena umumnya merupakan bagian dari sebuah apartemen. Sungguh tak dinyana saya dapat menjumpai “masjid yang sesungguhnya” di jantung eropa ini.

Masjid yang memukau perhatian saya itu bernama Sehitlik Moschee (masjid Sehitlik) atau lebih lengkapnya bernama Berlin Turk Sehitlik Camii. Nama tersebut terpampang di atas pintu gerbang masjid yang dibangun pada tahun 1983 oleh seorang arsitek Turki bernama Hilmi Senalp di kawasan Neukolln tepatnya di Columbiadamm tak jauh dari bandara udara Tempelhof. Ornamen bergaya arsitektur Osmani menghiasi setiap sudut masjid tersebut, benar-benar indah! tak henti hati dan lisan saya memuji kebesaranNya ketika mengitari setiap ruang dalam masjid tersebut. Allahu Akbar! Apa yang dirasakan saat itu membuat saya bersujud di hadapan Sang Pemilik Keindahan.

Seraya menanti jenazah yang sedang dalam proses dimandikan, saya dan suami beranjak ke luar menyusuri pekarangan masjid. Ada yang belum sempat kami jelajajah di sana. Di sela-sela taman yang asri di halaman masjid tersebut, tersembul banyak batu nisan. Ya, banyak sekali batu nisan! Baru kami sadari masjid tersebut ternyata didirikan di tengah areal pemakaman. Menurut sejarahnya, areal pemakaman tersebut telah ada sejak tahun 1863, merupakan sebuah tempat di mana para diplomat Turki dikebumikan. Kata Sehitlik sendiri berasal dari kata syahid yang dijadikan nama areal pemakaman tersebut. Mungkin para diplomat Turki yang telah berjuang untuk meretas hubungan baik dengan Jerman saat itu dianggap syahid ketika mereka wafat.

Langkah kami terhenti ketika serangkaian tulisan yang terpahat pada sebuah pusara menarik perhatian kami. Nama yang tertera di pusara tersebut berbeda dari yang lainnya. Di situ, tertulis sebuah nama milik seorang Indonesia bernama Suharto yang wafat berpuluh-puluh tahun silam. Subhanallah! Maha Kuasa Allah, ajal mendatangi siapa saja kapan pun dan dimana pun berada. Saya terhenyak beberapa saat dan bersimpuh merasakan kebesaranNya saat dzikrulmaut di hadapan pusara tersebut.

Sebuah lantunan suara tiba-tiba sangat jelas terdengar membahana sampai ke halaman masjid, menandakan waktu zhuhur tiba. Nyaris tak percaya dengan pendengaran sendiri ketika dapat mendengar adzan berkumandang di udara bebas Columbiadamm sebagaimana halnya di Indonesia. Padahal selama ini, kumandang adzan hanya sekedar terdengar oleh orang-orang yang berada dalam masjid saja. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah dikarenakan masjid tersebut letaknya jauh dari pemukiman warga, sehingga kumandang adzan seperti di tanah air dapat pula dirasakan di tempat ini? Allahu Akbar! Untuk kesekian kalinya saya merasakan betapa Maha Besarnya Allah.

Tentunya semua itu dapat terjadi hanya karena kuasa Allah semata. Bukan suatu hal yang mustahil bagi Allah pemilik semesta alam ini untuk menjadikan adzan bergema di manapun termasuk di wilayah yang muslimnya minoritas. Sungguh! terasa sekali kebesaran Allah kala meresapi setiap untaian kalimat yang dikumandangkan muadzin bersuara emas itu, benar-benar menggigilkan hati! dan mengalirkan ketenangan ke setiap relungnya. Inilah lantunan terindah sepanjang hidup saya di sana. Saya pun bergegas memenuhi panggilan tersebut, ingin segera bersujud ke hadapan Allah Azza wa Jalla.

Sehitlik, senang sekali dapat mengunjungimu, mentafakuri ayat-ayat kauniyahNya yang berada di sekelilingmu termasuk pusara-pusara yang mengitarimu, mengingatkan diri akan kefanaan hidup dan untuk selalu dzikrulmaut. Rasa cemburu tak dapat kubendung pada mereka yang senantiasa memakmurkanmu juga pada para syahid di balik batu nisan itu karena lima kali dalam sehari mereka dapat mendengarkan kumandang adzan mengalun bebas darimu, wahai rumah Allah!

(Sebuah catatan hati ketika pertamakali melihat “masjid”, sebelum menyaksikan keindahan rumah Allah lainnya di Jerman)

Catatan:Ineu Ratna Utami, (Muslimah kini tinggal di Bogor).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar