data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Senin, 04 Maret 2013

Aduhai, Alangkah Bijaksananya Rasulullah.

Allah SWT telah menjadikan kebijaksanaan sebagai salah satu karakter Rasulullah saw, yang membuatnya mencintai manusia dan mengangkat derajat beliau di sisi mereka.

Suatu kali Zaid bin Su’nah sengaja memancing Rasulullah saw untuk menguji kebijaksanaan beliau, karena dalam kitab-kitab terdahulu, tercantum ciri kebijaksanaan beliau, yakni bahwa sesungguhnya kebijaksanaannya akan mengalahkan ketidaktahuannya, ketidaktahuannya yang sangat tidak akan menambah apapun baginya kecuali kebijaksanaan.

Sebelum masuk Islam, Zaid datang menghadap beliau dan berperkara dengannya dalam masalah hutang, lalu dia menarik baju beliau dari pundaknya, kemudian memegang seluruh bajunya. Ia bertindak kasar kepada beliau, kemudian berkata, “Hai keturunan Abdul Muthallib! Sesungguhnya kalian orang yang suka mengulur-ulur waktu pembayaran.” Umar bin Khaththab kontan menghardik Zaid dan mengeraskan ucapannya. Sebaliknya, Nabi saw malah tersenyum dan berkata, “Wahai Umar, aku dan dia tidak bermaksud membuat perkara seperti apa yang engkau sangka. Engkau menyuruhku untuk membayar utang dengan sebaik-baiknya, tetapi engkau malah menyuruhnya untuk menyelesaikan perkara dengan sebaik-baiknya.” Kemudian Zaid berkata, “Masih ada tempo untuk membayar utang tersebut tiga hari.” Lalu beliau menyuruh Umar untuk membayarkan dulu utang beliau dan menambahnya 20 sha’ sehingga hal itu membuat Zaid menjadi terharu.

Kejadian yang sepadan dengan kisah di atas adalah apa yang diriwayatkan Anas. Dia bertutur, “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah saw, sementara beliau memakai selimut buatan orang Najrani yang kasar tepi kainnya. Lalu seorang Arab dusun menemui beliau dan menarik selimutnya dengan kencang hingga aku melihat pada leher beliau bekas goresan tepi selimut karena kencangnya selimut tersebut ditarik. Kemudian Arab dusun itu berkata, “Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sedikit harta Allah yang kini ada padamu (dalam satu riwayat redaksinya berbunyi, ‘Sesungguhnya engkau tidak membawakan untukku sedikit hartamu dan tidak juga harta bapakmu.’) Rasulullah saw kemudian menoleh kepadanya seraya tertawa, lalu menyuruh sahabat memberikan sesuatu untuknya.

Sesuatu yang hampir mirip dengan kisah di atas adalah peristiwa yang terjadi pada hari Ja’arranah. Waktu itu Rasulullah saw membagikan harta rampasan perang yang diperoleh kaum Muslim kepada orang-orang yang menurut Rasulullah saw akan membawa kebaikan bagi Islam dan kaum Muslim, yakni para mualaf (orang-orang yang dilembutkan hatinya.) Akan tetapi, salah seorang lelaki berkata, “Demi Allah, tidak ada keadilan dalam pembagian harta rampasan kali ini.”

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa laki-laki itu berkata, “Wahai Rasulullah, bertaqwalah kepada Allah!”

Rasulullah saw menjawab, “Siapakah yang sanggup bersikap adil selain Allah dan Rasul-Nya?! Aku sia-sia dan merugi jika tidak bersikap adil. Sesungguhnya Allah telah merahmati  Nabi Musa as. Karena ketika ia disakiti lebih dari ini, ia tetap bersabar.”
Khalid bin Walid kemudian menimpali, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memenggal lehernya?” Beliau menjawab, “Tidak, mungkin saja dia masih suka salat.” Khalid berkata, “Betapa banyak oang melakukan salat tetapi masih suka mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya.”

Rasulullah saw kemudian bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati-hati manusia dan juga tidak untuk merobek-robek perut mereka.”

Kebijaksanaan merupakan sifat insani yang dijadikan Allah Swt dalam hati orang yang menginginkan kebaikan, yang bisa menghisab kemarahan dirinya dan mendorongnya untuk lebih memilih sikap memaafkan dan berbuat baik, daripada memberikan sanksi dan membalas kejelekan walaupun pembalasan itu bisa dilakukan olehnya. Allah Swt telah menjadikan kebijaksanaan sebagai salah satu karakter Rasulullah saw, yang membuatnya mencintai manusia dan mengangkat derajat beliau di sisi mereka.

Sekelumit riwayat di atas adalah sedkit dari sekian banyak riwayat yang menceritakan betapa Rasulullah Saw adalah orang yang sangat bijaksanan. Jika kita meneliti bukti kebijaksanaan yang ada dalam diri Rasulullah saw, niscaya akan kita temukan di dalamnya tanda-tanda yang menunjukkan kemuliaan dan kehormatan tertinggi. Wallahu a’lam bi shawwab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar