data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Kamis, 07 Maret 2013

Aceng, Ariel, Dan Logika Konyol Kita.




Bupati Garut Aceng Fikri jadi bulan-bulanan media massa dan buah bibir khalayak. Mulai dari di jejaring sosial hingga warung kopi membicarakan pernikahan singkat sang bupati dengan santriwati di Garut. Pastinya sang bupati menjadi bahan hujatan dan ledekan.Termasuk parpol Golkar yang menaunginya sudah ambil ancang-ancang untuk memecatnya.

Sebenarnya kasus pernikahan singkat banyak terjadi di masyarakat. Malah ada yang lebih singkat lagi dibandingkan pernikahan Aceng-Fani. Tapi karena pelakunya public figure, pejabat negara, media massa langsung ‘menerkam’ dan ‘memangsa’ kasus ini. Kaidah ‘name makes news’ benar-benar efektif mengatrol pemberitaan.

Akan tetapi ada persoalan yang luput dari kacamata publik, yakni upaya serius dari sejumlah kalangan untuk meliberalkan hukum-hukum pernikahan. Di tengah keawaman kita terhadap hukum-hukum Islam, ditambah gencarnya pemelintiran berita oleh media massa sekuler serta pernyataan pengamat sosial yang juga sekuler, otak kita dibuat lupa bahwa selain mengatur persoalan pernikahan, Islam juga mengatur urusan perceraian.

Pernikahan dan perceraian adalah perkara yang sudah diketahui oleh banyak orang. Syeikh Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqhus Sunnah menjelaskan pada bab pernikahan bahwa bila seseorang mengetahui ada aib pada pasangannya maka ia berhak membatalkan pernikahan tersebut. Baik pada perempuan maupun lelaki. Beliau mencantumkan keterangan bahwa Nabi saw. pun pernah menceraikan seorang wanita dari Bani Bayadhah dalam waktu singkat karena ada cacat tubuh wanita tersebut. Beliau juga menegur Bani Bayadhah yang menawarkan wanita tersebut karena dianggap telah menipunya, “Kalian telah memperdayaku.” (HR. Abu Nuaim dan Bayhaqi).

Pernikahan bukan harga mati yang tak bisa dicari jalan keluarnya bila salah satu atau kedua pasangan tidak mendapatkan kebahagiaan, atau mengetahui ada aib dari pasangannya. Thalaq adalah jalan keluar yang sudah dihalalkan Allah SWT.

Ini bukan berarti kawin-cerai adalah sesuatu yang digampangkan oleh syariat. Bila kita buka  al-Quran, anjuran untuk bergaul secara maruf dengan istri dan menahan perceraian dengan cara baik lebih didahulukan ketimbang menceraikannya. Firman Allah SWT.:

“Dan bergaullah dengan mereka secara maruf. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS. an-Nisa: 19).

Akan tetapi perceraian bukanlah sesuatu yang patut dibenci apalagi diharamkan. Karena meskipun Allah SWT. membencinya, tapi Ia sudah menghalalkannya.

أَبْغَضُ الْحَلاَلِ إِلَى اللَّهِ الطَّلاَقُ
“Perkara halal yang dibenci Allah adalah thalaq,”(HR. Abu Daud).

Tindakan sang bupati Garut mungkin tidak ahsan, apalagi dengan perkataannya yang mengibaratkan ‘pernikahan seperti membeli barang yang bila spek-nya tidak sesuai maka bisa dikembalikan’ jelas menyebalkan. Tapi bukan berarti kita melupakan persoalan yang paling esensial; Allah telah mengatur pernikahan dan menghalalkan perceraian.

Publik dan media juga bersikap tidak fair dengan seperti peduli urusan moral dengan mengecam kasus ini, tapi bersikap lain dengan kasus perzinaan yang dilakukan Ariel atau Anji. Kriminalitas yang dilakukan dua selebritis ini tidak terlalu diambil pusing oleh khalayak. Ariel malah menjadi ‘media darling’  –  kesayangan media –. Tidak pernah media massa, apalagai elektronik, menyudutkan Ariel seperti menyudutkan perceraian sang bupati.

Khalayak juga ramai-ramai membela dan bersimpati kepada Ariel. Para artis mendatangi rutan memberikan dukungan moril kepada vokalis yang video mesumnya beredar ke mana-mana. Seolah-olah ia adalah ‘korban’ kejahatan seperti TKW yang diperkosa majikan.

Ketika kemudian sang bintang ini kembali mengeluarkan album baru dan mentas, lagi-lagi media memberitakannya dengan heboh. Konsernya juga ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Seolah mengatakan ‘the hero is back’. Sang pahlawan telah kembali. Para penggemarnya juga lagi-lagi mengelu-elukannya, para selebritis juga memuji come back-nya. Menjijikkan.

Ada pemutarbalikkan opini yang dahsyat yang dilakukan media dan kalangan tertentu. Zina diterima dan bisa dimaafkan. Tapi tidak untuk kebenaran yang terkubur. Kasus yang sama juga dialami Aa Gym yang poligaminya dicibir oleh media massa dan khalayak, tapi tidak untuk perzinaan para selebritis.

Grup rock lawas The Rolling Stones pernah membuat lagu Sympathi for The Devil yang kontroversial. Lagu itu cocok menggambarkan keadaan kita hari ini. Di mana media massa dan publik memang lebih bersimpati kepada kejahatan ketimbang pada hukum yang sudah jelas. Apalagi bila pelakunya selebritis yang bisa dijadikan ikon liberalisasi dan perlawanan terhadap nilai-nilai agama. Selebritis boleh saja berzina berkali-kali, pakai narkoba berkali-kali, tapi media massa akan terus mengangkat mereka dan para penggemar akan setia menunggu kehadirannya. Inilah kekonyolan hidup yang berdiri di atas sekulerisme, yang mempersetankan akal sehat dan mencampakkan halal dan haram. Inilah sekulerisme, inilah demokrasi.

Aneh bila umat Islam masih betah tinggal di alam seperti ini dan memakai logika kacau ini. Nauzubillah min dzalik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar