data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Senin, 18 Maret 2013

Pemerintah Indonesia pun Gusar dengan sebutan ‘Indon’.


HUBUNGAN Indonesia dengan Malaysia selalu mengalami pasang surut. Sengketa perbatasan, kekerasan yang diterima TKI, hingga penyebutan istilah Indon kepada warga Indonesia oleh warga dan media Malaysia pernah membuat pemerintah Indonesia berang.

Pemerintah dan rakyat Indonesia menentang penggunaan kata Indon yang dianggap menghina. Bahkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur berulang kali melayangkan surat protes kepada media di Malaysia yang bersikukuh menggunakan istilah Indon untuk menyebut WNI yang bekerja di negeri jiran ini.

Pemerintah Indonesia pernah melayangkan nota protes kepada duta besar Malaysia di Indonesia pada 13 Mei 2007 lalu. Pemerintah Malaysia kemudian mengambil tindakan dengan mengeluarkan larangan penggunaan istilah Indon secara resmi oleh Kementerian Penerangan Malaysia, pada 24 Mei 2007.

Di Indonesia, istilah ini berkonotasi negatif dan dianggap sebagai ejekan atau penghinaan kepada warga negera Indonesia. Namun meski secara resmi pemerintah Malaysia sudah melarang penggunaan kata Indon, hingga saat ini di masyarakat Malaysia kata-kata itu masih digunakan.

Bahkan salah satu produk makanan cepat saji di Malaysia, Maggie Mie menggunakan istilah Indon di kemasan mie instan tersebut. 

Menurut survei yang pernah dilakukan Nestle (Malaysia), kata ' Indon' sangat populer serta merupakan sesuatu yang positif dan potensial bagi pemasaran kepada generasi muda berusia 15-24 tahun dan 25-29 tahun.

KBRI Kuala Lumpur pun protes dengan pencantuman istilah Indon dalam kemasan tersebut.

"Indon dalam bahasa melayu Pontianak artinya pelacur. Kalau kita disebut Indon, berarti kita disebut bangsa pelacur," ujar WNI yang bekerja di Sabah, Malaysia, Yasir Fatahillah kepada reporter merdeka.com, Hery H Winarno, Jumat (15/3).

"Makanya saya tidak pernah mau dipanggil orang Indon. Saya Indonesia, bukan Indon. Indonesia is Indonesia. Dan setelah saya sebut itu lawan bicara kita jadi hormat," ujarnya. | MERDEKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar