data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Minggu, 10 Maret 2013

Metro TV Bantah Bela Yahudi.


Pihak Metro TV membantah bahwa penayangan film “Berdarah Yahudi Bernafas Indonesia” dalam program inside story adalah untuk membela kelompok Yahudi. Menurut Doddy Hidayat dari Metro TV, film tersebut justru ingin membeberkan fakta perkembangan Yahudi agar masyarakat Indonesia tahu. Demikian dilaporkan Hidayatullah.com.

Menurut Doddy, perkembangan yahudi di Indonesia sudah mencapai 60 ribu orang. Ia juga menjelaskan bahwa kelompok ini juga digerakkan secara international.

“Masyarakat diharapkan paham perbedaan Zionis Israel dan Yahudi. Keterbelahan itu yang ingin diungkapkan Metro TV,” jelasnya dalam pertemuan dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMMI) di Jakarta.

Namun, Ketua KAMMI Pusat Sofyanti Rahmat menilai film Metro TV itu justru menyudutkan umat Islam. Sofyanti mengeluhkan sikap Metro TV yang tidak memfasilitasi narasumber dari kelompok yang disebut Metro TV intoleran tersebut.

Sofyan dengan tenang mengkritik sikap Metro TV karena dianggap tidak melakukan investigasi secara serius. Harusnya menurut Sofyan, Metro TV juga memberikan gambaran tentang fakta kekejaman kelompok Zionis Israel terhadap rakyat Palestina.

“Di film tersebut memiliki cuplikan yang memojokkan,” tandasnya membantah argumentasi pihak Metro TV.

Sementara, Komisioner KPI, Azimah Subagyo mengungkapkan kekecewaannya terhadap Metro TV. Menurutnya Metro TV tidak belajar pada kasus ketika menuduh kelompok Kerohanian Islam (Rohis) sebagai jaringan terorisme.

Azimah menilai film Inside Story tersebut memang sangat tendensius terhadap golongan agama tertentu. Menurut Azimah, selain kaidah cover both side, Metro TV seharusnya tidak memasukkan pendapat pribadi ke dalam beritanya.

“Metro TV ini media berita atau media provokati?” tandasnya.

Sementara Dadang Rahmat Hidayat, Komisioner KPI lainya berharap Metro TV juga memerhatikan efek penerimaan asumsi masyarakat.

Menurutnya tidak semua masyarakat akan sama menerjemahkan sebuah film atau berita. Dari situ ia berharap Metro TV lebih berhati-hati apalagi jika informasi tersebut bersinggungan dengan sensitifitas suku, agama dan ras (SARA).

Pihak KAMMI sendiri berencana menuntut Metro TV ganti rugi sebesar 10 Milliar. Namun, KPI masih berharap gesekan antara Metro TV dan KAMMI tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Salah satu yang diharapkan KPI, Metro TV bisa menyediakan ruang untuk membuat film yang meluruskan film “Berdarah Yahudi bernafas Indonesia” tersebut.

Seperti diketahui, tayangan INSIDE edisi “Berdarah Yahudi, Bernafas Indonesia” Kamis, 14 Februari 2013 membuat KAMMI terganggu. Pasalnya, tayangan berdurasi 5 menit 36 detik yang ditulis Monique Rijkers menggambarkan komunitas Yahudi di Indonesia semakin tumbuh namun di sisi lain adanya visualisasi beberapa organisasi massa Islam yang dikatan sebagai ‘massa intoleran’ dan anti Semit (anti Yahudi). |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar