data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Minggu, 01 September 2013

Idiihh, Kontes Kecantikan Itu Ternyata Terinspirasi dari Kontes Anjing

JAKARTA (voa-islam.com) – Believe or not? Percaya atau tidak, ternyata kontes kecantikan pertama kali ditujukan pada anjing, bayi, dan burung. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut tersebut diuji-coba untuk manusia. Jadi, kontes kecantikan Miss World itu seperti kontes binatang, seperti anjing dan burung. Idihhh…..kok mau?

Kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Sempat vakum karena diprotes, sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali.

Berawal dari festival yang bernama Festival Bikini Contest, lalu berganti menjadi Miss World. Inilah kontes kecantikan ala budaya barat yang mengagungkan kebebasan.

Beberapa tahun kemudian Eric Morley meninggal sehingga pagelaran tersebut diteruskan istrinya hingga muncul konsep 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian). Hingga saat inipun kontes kecantikan masih ditolak para aktivis perempuan di beberapa negara.

Setelah Inggris cukup sukses menggelar kontes kecantikan, lalu sukses tersebut merambat ke Amerika. Pada tahun 1952 sebuah perusahaan pakaian dalam di Amerika mencoba untuk mencari cara mempromosikan produknya dengan menggelar Miss Universe.Tentu para peserta wajib berbusana bikini agar menarik minat pembeli pakaian dalam tersebut. Pada tahun 1996 Donald Trump membeli hak kontes tersebut untuk ditayangkan di sebuah televisi.

Sesi berpakaian renang termasuk tahapan wajib yang harus dilalui dalam kontes kecantikan Miss Universe. Pakaian renang ‘one piece’ tetap harus digunakan bila tak ingin didiskualifikasi dari kontes tersebut
.
Walhasil, meskipun menolak berbikini, tetap harus mau mengumbar auratnya di depan publik. Aurat itu dipamerkan untuk dinikmati oleh mata-mata jalang dan nafsu liar para juri, fotografer, panitia, dan semua pihak yang terlibat di dalamnya.

    ….Ajang kontes kecantikan selalu menomorsatukan fisik dalam adu pamer aurat. Perempuan adalah komoditi alias barang dagangan.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef menulis dalam bukunya, "Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran" (2006), ia menulis: Kontes kecantikan hakikatnya adalah sebuah penipuan dan pelecehan terhadap perempuan. Kontes kecantikan hanya untuk meraup keuntungan bisnis perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, atau salon kecantikan, yang bertujuan mengeksploitasi kecantikan perempuan sebagai primitive instinct dan nafsu dasar laki-laki, serta kebutuhan akan uang untuk hidup mewah. Ia menolak habis-habisan kontes kecantikan, meski dirinya lulusan luar negeri yang berpandangan liberal.”

Lebih lanjut ia menulis: “Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan dari kegiatan ini tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar