data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Rabu, 30 Oktober 2013

TEMPO.CO Berusaha Adu Domba Warga Lenteng Agung VS FPI

(Jakarta) Gonjang- ganjing rencana FPI (Front Pembela Islam) untuk mendemo Lurah Susan Jasmine tidak dibarengi dengan pemberitaan subjektif media online, TEMPO.CO.

Media yang berkali-kali tersandung kasus di pemerintahan ini rupanya menyikapi support FPI pada Warga Lenteng Agung dengan ‘cara lain’,

Entah apa motif non objektif TEMPO.CO dalam menulis berita, namun jelas pada sebuah judul berita terkait kasus Lurah Susan Jasmin, TEMPO.CO menulis : Warga Lenteng Agung Resah FPI Usik Lurah Susan (28/10).

Mengetahui berita ini warga Lenteng Agung terkejut bukan kepalang, karena tidak ada warga Lenteng Agung yang merasa resah terkait rencana FPI yang akan mendemo Lurah Susan.

“Ini berita muncul dari mana? Kenapa kayak ada seperti pemutarbalikkan fakta ya?”, kata A. Rohim, 35, seorang pegawai As-Shofa, di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa
(29/10).

Seperti diketahui publik, munculnya kasus Lurah Susan Jasmine justru berangkat dari penolakan warga kelurahan Lenteng Agung atas kepemimpinan Susan. Alasannya, karena Lurah Susan Jasmine berjenis kelamin perempuan, selain itu, Lurah Lenteng Agung itupun berbeda keyakinan dengan mayoritas warga setempat.

Sementara FPI (Front Pembela Islam) berencana akan membantu mewakili aspirasi warga dengan mendemo Jokowi di Balai Kota. Tujuannya, untuk memindahtugaskan Lurah Susan dari Kelurahan Lenteng Agung.

“Berita itu harus dicross check kebenarannya, jangan nanti malah terselip unsur fitnah yang justru jadi meresahkan masyarakat. Warga diadu domba dengan FPI. Jadi ini yang bakal meresahkan warga, bukan dari berita FPI nya”, tandas A. Rohim lagi.

Sebenarnya, aksi penolakan Lurah yang telah eksis 22 tahun bekerja di pemerintahan ini merupakan dampak dari program lelang Lurah dan Camat yang ‘dibomber’ tim Jokowi sebagai senjata paling ampuh dalam menanggulangi korupsi. Namun program yang katanya‘sakti’ meredam korupsi justru malah melempem kerupuk alias tak berguna.

Tindak korupsi justru semakin tumbuh subur meranum, dimulai dari tingkat Kelurahan, seperti ‘penilepan’ 450 juta uang APBD yang dilakukan Lurah Ceger, Fadly Lubis. Dan beberapa waktu lalu, dua kali demonstrasi penolakan warga Lenteng Agung atas kepemimpinan Lurah Susan Jasmine juga ditenggarai sebagai salah satu kegagalan program ‘lelang jabatan’ produk Jokowi.

“Warga Lenteng Agung ada yang fanatik dan ada yang tidak, kalau yang fanatik tidak terima kepemimpinan Lurah Susan, itu hak mereka. Tinggal nanti bagaimana pemerintah menindaklanjutinya”, ujar Waryo, 53, seorang petugas keamanan pertokoan di Jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (29/10).

Diungkap beberapa warga, bahwa mereka sama sekali tidak pernah mendengar adanya isu keresahan warga yang ditimbulkan terkait support FPI pada warga untuk mendemo Lurah Susan.

“Waah, sumpah kalo soal itu saya tidak pernah dengar’, lanjut Waryo.

Sementara Ucup, 61, seorang Marbot (pengurus) Masjid Ziadatu Rahman, di jalan Jagakarsa, Jakarta Selatan mengaku pusing dengan kekisruhan yang terjadi seputar kasus Lurahnya itu.

“Saya pusing kalau ada ramai-ramai gitu, saya gak mau ikut-ikutan”, kata pria yang beristrikan orang Depok ini, Selasa (29/10).

Disinggung desas desus keresahan masyarakat karena rencana FPI ingin mendemo Jokowi terkait pemindahtugasan Lurah Susan, Marbot masjid ini pun mengaku tidak pernah mendengarnya.

“Belum tuh, saya belum pernah tau ada isu warga yang resah gara-gara FPI mau demo”, tutur Ucup menutup pembicaraan.

Warga sangat menyayangkan pemberitaan di TEMPO.CO yang memuat berita berkonotasi provokatif,karena seharusnya media hadir di tengah-tengah masyarakat bukan untuk meresahkan atau menakut- nakuti, apalagi sampai melansir berita bermuatan adu domba antar warga dengan sebuah ormas yang telah berdiri sejak 1998 ini.

“Gak ada warga resah kayak yang ramai diberitain itu. Kita harus cerdas lah memilih berita, mana berita yang jahat dan mana berita yang baik,” kata Agus, 40, seorang pedagang kelontong di pasar jalan Jagakarsa (29/10).

Www.spektanews.com/2013/10/tempoco-adu-domba-warga-lenteng-agung.html?m=1

*Sungguh menyedihkan kode etik Jurnalisme media2 sekuler

*Khusus Tempo dulu saat mereka dizalimi Pengusaha Tommy Winata, Saat tidak ada yang berani menghadapinya, FPI bangkit membela hingga guru kita Habib Rizieq Dipenjara

*Sekjend FUI: Media memang aneh. Media membela warga dalam kasus bentrok dengan FPI di Kendal, namun dalam kasus konflik warga Lenteng Agung dengan Lurah Susan, media habis- habisan membela Susan. Ada apa?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar