data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Kamis, 10 Oktober 2013

Buku Gerakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar FPI Laris Manis

Jakarta (Wali Pos)- Pergerakan dakwah FPI dalam mensyiarkan Islam tampaknya tak diperhitungkan kaum liberal. Terbukti, semakin FPI dihujat dan difitnah dengan berbagai macam cara, justru dukungan umat makin menguat dan mengakar.

Rahasia ini diungkap oleh pedagang buku dan baju bernama Ahmad Maulana. “Saya sebut menguat dan mengakar, karena sekarang ini FPI makin dicintai masyarakat. Mereka tidak saja datang dari perkotaan. Pencinta FPI itu sudah menyebar luas di pedesaan dan kampung-kampung,” katanya.

Untuk membuktikan ucapannya benar, Ahmad mengaku telah menjual buku gerakan “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” FPI sebanyak 650.000 eksemplar. Mayoritas mereka yang beli buku itu justru dari desa dan kampung.

“Semakin banyak kaum liberal yang menghujat FPI, buku ini makin laris. Banyak umat islam yang makin penasaran, lalu mencari-cari kenapa dan mengapa FPI terus dihujat? Semua jawaban itu ada dibuku ini,” kata Ahmad Maulana yang setiap tahunnya mampu menjual 60.000 eksemplar.

Sejak delapan tahun lalu hingga sekarang Ia telah menjual kurang lebih 650.000 eksemplar. Sebuah angka penjualan yang cukup fantastis bagi seorang pedagang buku biasa.

“Dulu harganya masih Rp. 125.000 per eksemplar. Tapi setelah dicetak ulang dan direvisi, harganya turun Rp. 60.000 per eksemplar,” katanya saat ditemui Wali Pos di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, kemarin siang.

Menurut Ahmad indicator penjualan buku ini akan terus meningkat. Pasalnya, beberapa rekannya yang ada di berbagai daerah telah menyatakan minat menjadi agen dan pengecer.

Usai Milad FPI permintaan pun makin banyak. “Saya memang ada permintaan cukup besar dari daerah- daerah, dan ini membuat saya makin bersemangat,” cetusnya.

Disebutkan oleh Ahmad, jika ada acara pengajian, kajian dan maulid permintaan buku Amar Ma’ruf Nahi Munkar FPI makin banyak dicari pembeli. Begitu juga untuk baju dan atribut FPI yang rutin dibawanya, kemana pun Habib berceramah.

Ketika ditanya pengalaman dan keluhannya selama menjadi pedagang buku dan baju serta atribut FPI, Ahmad mengaku banyak sekali. Meski Imam Besar FPI Habib Rizieq sudah naik mobil Rubicon waktu konvoi Milad kemarin, tidak serta merta jamaah FPI itu kaya. “Jujur saja, sebenarnya banyak jamaah FPI itu yang miskin-miskin. Pengalaman saya jadi pedagang, untuk membeli seragam dan baju pun mereka banyak yang ngutang. Tapi karena rasa cintanya pada FPI, mereka datang juga ke Munas,” cerita Ahmad.

Kalau pembeli banyak yang ngutang Anda rugi dong? Tanya Wali Pos

“ Tidak juga. Pandai-pandai kita lah dalam berdagang. Bagi saya semua ini bukan sekedar berdagang, tapi ada juga misi dakwah. Dengan menyebarkan buku ini saya bisa ikut berdakwah. Perjuangan itu tidak harus ditonjolkan. Itu bedanya pejuang FPI dengan pengurus Parpol,” jawab Ahmad Maulana
mengakhiri bincang-bincangnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar