data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Minggu, 06 Oktober 2013

Pesan Rasulullah di Hari Kurban

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”  (QS al-Kautsar : 1-2)

Dalam waktu tidak lama lagi, umat Islam akan memasuki bulan Zulhijah. Bulan yang di dalamnya terdapat kewajiban bagi umat Islam(mampu) untuk menunaikan ibadah haji. Juga bulan bagi umat Islam(mampu) untuk menyembelih hewan kurban.


Lalu apa wasiat Rasulullah Saw untuk umat Islam yang beliau sampaikan saat hari kurban?. Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya, menuliskan sebuah hadits yang cukup panjang terkait pesan-pesan Rasulullah yang beliau sampaikan di hari kurban pada bulan haram ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakrah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

"Sesungguhnya zaman itu terus berputar sama seperti saat Allah menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan-bulan haram, dan tiga di antaranya adalah bulan-bulan yang berurutan yaitu; Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Sedangkan bulan Rajab adalah bulan Mudzar yaitu bulan yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya'ban.

(beliau bertanya): Bulan apakah sekarang ini? kami menjawab; Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau terdiam beberapa saat, hingga kami menduga bahwa beliau akan menyebutnya dengan nama yang lain, lalu beliau bersabda: Bukankah sekarang bulan Dzul Hijjah? kami menjawab; Benar. Beliau bertanya lagi: Negeri apakah ini? kami menjawab; Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau terdiam beberapa saat, hingga kami menduga beliau akan menyebutnya dengan nama yang lain, lalu beliau bersabda: Bukankah sekarang kita berada di negeri Baldah? kami menjawab; Benar. Beliau kembali bertanya: Hari apakah ini? kami menjawab; Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau terdiam beberapa saat, hingga kami mengira beliau akan menyebutnya dengan nama yang lain. Kemudian beliau bersabda: Bukankah sekarang adalah hari Nahr (kurban)? kami menjawab; Benar.

Beliau kemudian bersabda: Sesungguhnya darah kalian, harta bendamu -Muhammad (salah satu perawi, red) berkata; saya kira beliau juga bersabda: dan kehormatan kalian- adalah haram atas diri kalian, seperti haramnya harimu sekarang ini, di negerimu ini, dan di bulan kalian ini. Sesungguhnya kalian pasti akan bertemu dengan Rabb kalian (di hari kiamat kelak), dan Dia akan menanyakan tentang semua amal perbuatan kalian. Oleh karena itu, sepeninggalku nanti, janganlah kalian kembali kepada kesesatan -dimana sebagian dari kalian membunuh sebagian yang lain-.

Hendaknya orang yang hadir pada saat ini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir! bisa jadi orang yang mendengar dari mulut kedua justru lebih menjaga apa-apa yang di dengarnya daripada orang yang mendengarnya secara langsung. Sedangkan apabila Muhammad menyebutkan hadits tersebut, dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam benar. Setelah itu beliau bersabda: Bukankah aku telah menyampaikannya, bukankah aku telah menyampaikannya?! Hingga dua kali.”


Demikianlah dapat dipahami bahwa darah, harta dan kehormatan seorang Mukmin adalah terjaga, haram untuk ditumpahkan, dirampas dan diinjak-injak. Tetapi apa yang terjadi saat ini?. Darah, harta dan kehormatan seorang mukmin seperti murah harganya. Darah mereka dengan mudah dikucurkan oleh musuh-musuh Islam yang memerangi kaum Muslimin melalui apa yang disebut perang melawan terorisme. Orang-orang yang tak bersalah ditangkap, dipenjara bahkan ditembak di tempat dengan tuduhan terlibat dalam aktivitas terorisme. 

Harta kaum muslimin dirampas oleh orang-orang kafir melalui berbagai tipu daya daya. Sumber daya alam dan kekayaan lainnya berupa tambang gas, minyak bumi, emas, perak, dan sebagainya dikuasai oleh orang-orang kafir. Dan pada saat yang sama kehormatan kaum Muslimin diinjak-injak oleh negara-negara kafir. Mereka menjadi umat yang hina di negeri sendiri. Kaum muslimah dieksploitasi sedemikian rupa, bak barang dagangan. Ajang kemaksiatan Miss World digelar di Indonesia, negeri yang mayoritasnya adalah umat Islam. Padahal para ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa haram atas kontes tersebut. Tetapi rupanya hal itu tidak menjadikan kaum minoritas yang hendak merusak negeri ini mundur. Mereka malah menantang-nantang.

Rasulullah juga telah berwasiat agar kaum Muslimin tidak kembali kepada kesesatan, dimana satu dengan yang lain saling membunuh. Konflik dan kekerasan yang saat ini terjadi di sejumlah negeri Islam mestinya tidak perlu terjadi. Apalagi bila konflik itu disebabkan oleh hal-hal yang bersifat khilafiyah furu’iyah (perbedaan pendapat dalam persoalan cabang), bukan soal ushul (pokok). Sebab sesungguhnya sesama mukmin itu adalah bersaudara. “Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, ia tidak akan mendzaliminya dan tidak akan membiarkannya binasa.” (HR. Mutafaq Alayh). 


Wallahua’lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar