data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Jumat, 26 Juli 2013

Ustadz Arifin Ilham Menanam Padi, Habib Rizieq yang Jaga Tikusnya.

Bogor (SI Online) - Dalam berjuang itu ada dakwah, ada hisbah (tegas), dan ada jihad (perang). Tingkatannya berbeda-beda namun semua harus saling mendukung. Demikian dikatakan Ustadz Arifin Ilham kepada Suara Islam Online usai halaqah shubuh di Masjid Az Zikra Sentul, Bogor.

Menurut Ustadz Arifin, pembagian medan juang tersebut masing-masingnya memiliki karakteristik tersendiri, berbeda namun tidak bisa dipisahkan, masing-masing ada tempatnya.

"Rasulullah Saw mencontohkan kapan kita harus lembut, kapan harus tegas dan kapan harus perang. Dakwah dengan lembut iya benar tapi kan juga ada ketegasan dari rasul bahkan beliau Saw sampai berperang. Puncaknya adalah Jihad," ujar Ustadz Arifin.

Dengan mencontoh teladan Rasulullah Saw, Ustadz Arifin menggambarkan karakteristik tersebut dengan para ulama yang ada di negeri ini.

"Kemampuan Arifin dengan berdakwah, Habib Rizieq dengan ketegasannya, ayahanda Abu Bakar Ba'asyir dengan jihadnya, semuanya punya nilai lebih, dan saling mendukung satu sama lain," jelasnya.

Terkait tentang FPI yang sedang ramai diberitakan, Menurut Ustadz Arifin, FPI laksana tangan dalam tubuh umat Islam yang senantiasa berani memberantas kemaksiatan.

"Arifin tidak bisa seperti Habib Rizieq, makanya kata beliau, Ustadz Arifin teruslah berdakwah menanam padi, biar Habib yang jaga tikusnya," ujarnya.

Menanam padi dan membasmi tikus, itulah inti pesan yang disampaikan oleh Habib Rizieq kepada Sang Kyai. Habib Rizieq sendiri kerap menyitir kalimat yang sarat kandungan filosofis ini. Dalam berbagai kesempatan, Habib menjelaskan kepada umat bahwa posisi FPI adalah pembasmi tikus-tikus yang merusak sawah dan lahan dakwah para ulama.

Ketika masyarakat sudah jenuh dengan ketidaktegasan aparat dalam membasmi tikus-tikus, ketika keadilan dan kenyamanan untuk menjalankan agama diganggu oleh tikus yang berwujud dalam aliran sesat macam Ahmadiyah, pemikiran liberal macam JIL, merusak lahan dakwah para ulama, maka lahirlah FPI dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar