data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Rabu, 24 Juli 2013

SBY Putar Lagu Lama Jika ada Bentrok FPI

 
"Negara tak boleh kalah dengan kekerasan." Itulah kalimat yang diucapkan Susilo Bambang Yudhoyono lima tahun silam sesaat setelaj terjadi Insiden Monas 1 Juni 2008. Kini "lagu" yang nyaris sama diputar kembali oleh Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.

"Posisi negara sangat jelas, posisi saya sangat jelas, kita tidak akan memberikan toleransi kepada siapa pun yang sekali lagi melakukan aksi-aksi kekerasan, tindakan perusakan, main hakim sendiri dan semua yang bertentangan dengan hukum dan aturan yang berlaku di negeri ini," kata SBY kepada wartawan seusai menghadiri buka puasa di Jakarta International Expo, Ahad (21/7/2013) mengomentari bentrok antara FPI dengan preman Kendal beberapa hari lalu.

SBY mengaku telah memerintahkan kepada aparat Kepolisian untuk bertindak tegas, dan profesional, serta mampu mencegah terjadinya kerusuhan dan kekerasan yang lebih luas.

Dia juga mengaku mencermati perbincangan di media sosial terkait dengan isu bentrokan antara elemen FPI dengan masyarakat di Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Menurut SBY, dirinya telah dilapori langsung kejadian tersebut baik oleh Kapolri Timur Pradopo maupun Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto. Dia mengapresiasi langkah-langkah dan tindakan aparat kepolisian yang mampu meredam gejolak dan melokalisasi sehingga tidak meluas.

"Saya menilai apa yang dilakukan kepolisian waktu itu tepat dan akhirnya Alhamdullilah bentrokan tidak meluas. Saya juga menginstruksikan kepada Polri dan para penegak hukum lain untuk tidak membiarkan kejadian seperti itu, hukum harus ditegakkan, dicegah konflik atau benturan horizontal dan dicegah untuk tidak ada elemen dari mana pun juga, termasuk FPI yang melakukan aksi-aksi kekerasan apalagi tindakan pengrusakan," kata Presiden.

Rupanya, SBY hanya memutar lagu lamanya saat terjadi bentrok fisik FPI dengan kelompok lain. Sayangnya, lagu SBY itu tidak pernah diputar saat umat Islam menjadi korban kekerasan kelompok lain. SBY tidak berkomentar saat rombongan FPI akan dibantai oleh preman Dayak Kristen saat akan mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.

SBY tidak pernah komentar alias diam saja saat ada tawuran antarsuporter sepak bola yang menewaskan sejumlah orang. SBY tak pernah komentar atas merebaknya tawuran antarmasyarakat yang menimbulkan korban jiwa. SBY tak pernah komentar saat kekarasan merebak dalam kasus pilkada di beberapa daerah. SBY juga tidak komentar lawan kekerasan saat sejumlah tentara mengeksekusi orang dalam penjara. Bahkan SBY tidak komentar saat sejumlah anggota Kopassus di Papua ditembak mati oleh OPM. Apakah semua itu bukan kekerasan Pak Beye?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar