data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Selasa, 19 Februari 2013

Innalillah! 10 kali Ditolak Rumah Sakit, Bayi Akhirnya Meninggal.

Dera Nur Anggraini bayi berusia 7 hari akhirnya mengembuskan napas terakhir Sabtu kemarin (16/2)

Dera Nur Anggraini bayi berusia 7 hari akhirnya mengembuskan napas terakhir Sabtu kemarin (16/2) akibat gangguan saluran pernapasan karena ditolak rumah sakit lantaran orang tuanya tidak memiliki biaya. Ada 10 rumah sakit yang didatangi sang kakek dan ayah untuk menolong nyawa Dera.

Diceritakan ayah Dera, Elias Setionugroho (20), anaknya lahir pada Minggu (11/2) malam dengan cara operasi caesar di RS Zahira, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Namun rupanya anak kembarnya tersebut terlahir di bawah normal dengan berat 1 kilogram dan mengalami gangguan pernapasan.

Karena tidak mempunyai alat untuk merawat Dera, pihak rumah sakit menyarankan keluarga untuk mencari rujukan.

Awalnya Elias bersama Herman sang kakek menuju RS Fatmawati, namun saat sampai di rumah sakit tersebut pihak rumah sakit menyatakan bahwa ruangan penuh.

Tidak patah arang, akhirnya Herman berserta Elias menuju RSCM untuk mencari ruang perawatan dan operasi, namun lagi-lagi setelah menunggu hingga pagi hari, rumah sakit menyatakan bahwa ruangan penuh.

"RS Fatmawati, katanya ruangannya enggak ada, RSCM nunggu dari jam 4 sampe 6 pagi baru dapat masuk, saat itu pendaftaran tutup dari pada pulang, pagi kita tanya ke kasir, kita tanya ke ICU, sampe kita kasihin rujukan ke rumah sakit, 15 menit dateng bilangnya penuh," kata Elias saat ditemui di kediamannya, Jalan Jati Padang Baru RT 14/ RW 06, Pasar Minggu, Senin (18/2).

Tidak mau anaknya telantar, Herman dan Elias kemudian pergi menuju RS Harapan Kita. Saat sampai, keduanya kemudian memberikan surat keterangan tidak mampu kepada pihak rumah sakit. Namun setelah menunggu, pihak RS Harapan Kita mengatakan bahwa kamar juga penuh dan mengatakan kenapa keduanya yang membawa bukan pihak rumah sakit yang memberikan rujukan.

Usaha terus dilakukan, hingga selasa akhirnya Herman sang kakek mencari RS Pasar Rebo berharap cucunya bisa segera ditolong. Namun lagi-lagi pihak RS Pasar Rebo menolak karena kamar rawat tidak tersedia.

Keesokan harinya, sang kakek mencoba RS Harapan Bunda Pasar Rebo, saat di sana, Herman sempat ditanyai uang muka sebesar Rp 10 juta sebagai biaya perawatan dan belum termasuk operasi.

"Beberapa harinya dicari lagi yaitu RS Pasar Rebo, Harapan Bunda Pasar Rebo hari ketiga, Kita ditanyai DP, minimal harus punya uang 10 juta, operasinya beda lagi, kalau operasinya enggak bilang," kata Herman.

Usai dari Pasar Rebo, Herman dan Elias kemudian mencari rumah sakit lagi, rumah sakit berikutnya yaitu RS Asri, RS Tria Dipa, RS Budi Asih, RS JMC dan terakhir RS Pusat Pertamina.

Namun lagi-lagi, rumah sakit tersebut juga menolak. Di RS Pertamina, Sang kakek Herman langsung ditawari oleh petugas soal pembayaran, mau uang muka atau langsung tunai. Agar cucunya bisa dirawat, Herman kemudian mengatakan bahwa pembayaran akan dilakukan tunai, namun justru pihak rumah sakit beralasan kamar rawat penuh.

"Waktu itu petugas nanyain ke saya bapak mau DP atau cash, supaya saya dapat itu saya bilang cash, pas bilang cash dia bilang udah penuh, alasannya sama bilang penuh," papar Herman.

Karena tidak kunjung mendapatkan rumah sakit, Dera pada Sabtu kemarin akhirnya meninggal dunia. Sedangkan saudara kembarnya, Dara saat ini masih menjalani perawatan di RS Tarakan dan baru masuk malam tadi. Herman dan ayahnya, Elias siang ini kembali ke RS Tarakan untuk menemui Dera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar