data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Sabtu, 09 Februari 2013

Aliran Sesat Shalat Cukup Dua Raka'at.

Di Jambi saat ini, khususnya di Kabupaten Kerinci diketahui telah berkembang berbagai aliran agama yang ditengarai menyimpang dari Islam. Aliran ini shalat boleh dilakukan sebanyak dua rakaat saja yakni pagi dan malam hari dan memiliki nabi setelah nabi Muhammad SAW.
“Mereka punya nabi sendiri setelah Nabi Muhammad. Shalatnya cukup dua kali dalam sehari hanya dua rakaat, pagi untuk menghapuskan dosa malam, terus shalat malam untuk menghapuskan dosa disiang hari,” ungkap Bupati Kerinci H Murasman.
Dalam Islam, seharusnya shalat dilakukan sebanyak 17 rakaat dalam 5 waktu sehari semalam. Kemudian jika salah seorang sudah mengajak orang lain untuk shalat, maka dirinya tidak perlu shalat, karena pahala yang mengajak shalat sama dengan pahala orang yang diajak shalat.
Di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Kayu Aro juga terdapat aliran kepercayaan Saptodarmo. Selain itu, aliran Ahmadiyah juga masih berkembang di Desa Sungai Lingang, Kecamatan Kayu Aro.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) diminta turun tangan menyikapi ajaran yang diduga menyimpang dari Islam di Kabupaten Kerinci, Jambi. MUI Provinsi Jambi harus turun tangan membantu Pemda Kerinci mengantisipasi persoalan ini.
Gubernur Jambi Hasan Basri Agus mengatakan apapun aliran agama yang sedang berkembang di Kerinci saat ini harus dipelajari secara mendalam, khususnya oleh MUI. “MUI harus mencari tahu bagaimana bentuk aliran yang berkembang tersebut. Lalu, bagaimana cara mengintervensi adanya aliran yang berkembang itu,” ungkapnya, Kamis (7/2/2013).
Pengamat Teologis Islam, Dr H Hermanto Harun mengatakan, salah satu penyebab munculnya aliran sesat ini, yakni banyaknya mereka yang beragama tidak mengambil dari sumbernya. Selama ini beragama hanya fanatisme.
"Agama hanya mengikut saja, yakni sebagai taqlid saja. Sehingga tidak mengambil sumber yang aslinya,’’ tuturnya.
Penyebab kedua yakni, dangkalnya akhlak para pengikut aliran sesat ini dalam memahami agama. Masyarakat kelompok ini sering berlaku sok memahami, tapi tidak beragama dengan baik.
Dalam perspektif teologi Islam, katanya, kehancuran Islam datang dari dalam Islam itu sendiri. Jika ada indikasi, pengrusakan dari luar Islam, itu sangat mungkin terjadi.
"Gerakan seperti ini bersinergis dengan kemampuan setan. Setan ini menginginkan kita kafir,’’ sebutnya.
Dia mencontoh salah satu cara orang menghancurkan Islam yakni dengan menebarkan ajaran fluralisme beragama. Dimana semua keyakinan dalam beragama adalah sama.
"Jika kita meyakini semua agama itu sama, itu kita akan kafir,’’ tuturnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar