data-config="{'skin':'skins/scmGreen/skin.css','volume':100,'autoplay':true,'shuffle':false,'repeat':1,'placement':'top','showplaylist':false,'playlist':[{'title':'Nurul Musthofa-Ya Dzaljalali Wal Ikram ','url':'http://www.youtube.com/watch?v=_eV6T3hpwEA'},{'title':'Nurul Musthofa-Ya Robbi Sholli Ala Muhammad','url':'http://www.youtube.com/watch?v=2vwjFDiMhv0'}]}" >


Senin, 03 Juni 2013

Dimensi Ruhiyah Isra Mi'raj.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Isra’ [17]: 1)

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di al-Quds. Sedangkan Mi’raj adalah kenaikan Rasulullah Saw menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, Malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh hanya dalam waktu semalam.

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw yang dikaruniakan Allah Swt. Jumhur ulama sepakat bahwa perjalanan ini dilakukan beliau dengan jasad dan ruhnya. Menurut riwayat Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat-nya, peristiwa yang mengguncangkan penduduk Makkah ini terjadi delapan belas bulan sebelum hijrah.

Kisah perjalanan ini disebutkan oleh Imam Bukhari dan Muslim secara lengkap dalam Shahih-nya. Disebutkan bahwa dalam perjalanan ini, Rasulullah saw menunggang Buraq, yakni satu jenis binatang yang lebih besar sedikit dari keledai dan lebih kecil sedikit dari unta. Binatang ini berjalan dengan langkah sejauh mata memandang. Disebutkan pula bahwa Nabi saw memasuki Masjidil Aqsha lalu shalat dua raka’at di dalamnya. Jibril kemudian datang kepadanya seraya membawa segelas susu dan segelas khamr. Nabi saw kemudian memilih susu, setelah itu Jibril mengatakan, “Engkau memilih fitrah.” Dalam perjalanan ini, Rasulullah saw naik ke langit pertama, kedua dan ketiga dan seterusnya hingga ke Sidratul Muntaha. Di sinilah kemudian Allah mewahyukan kepada beliau apa yang telah diwahyukan, di antaranya kewajiban salat lima waktu atas kaum Muslim, di mana pada awalnya sebanyak lima puluh kali sehari semalam.

Harus disebutkan bahwa mukjizat Isra’ dan Mi’raj terjadi menyusul rentetan kejadian yang menyedihkan yang dihadapi oleh Rasulullah saw. Di antaranya adalah meninggalnya paman beliau Abu Thalib yang telah banyak melindungi beliau dari penyiksaan kaum Quraisy, meninggalnya istri beliau Khadijah yang terus menerus menambah semangat, tekad yang kuat dan kemauan yang keras dalam diri beliau, serta semakin kerasnya siksaan kaum Quraisy dan orang-orang yang menjadi sekutunya, termasuk penolakan yang keras oleh kaum Thaif saat beliau berdakwah ke sana. Peristiwa beruntun yang terjadi di tahun itu dinamakan dengan ‘amul huzni (tahun berduka cita).

Setelah itu datanglah “undangan” Isra’ dan Mi’raj sebagai penghormatan dari Allah dan penyegaran semangat dan ketabahannya. Di samping itu sebagai bukti bahwa apa yang baru dialaminya dalam perjalanan ke Thaif bukan karena Allah murka atau melepaskannya, melainkan hanya merupakan sunnatullah yang harus berlaku pada para kekasih-Nya. Sunah dakwah Islamiyah pada setian masa.

Allah swt hendak menghibur Rasul-Nya dengan perjalanan yang penuh berkah. Dalam perjalanan itu, tepatnya di Baitul Maqdis beliau shalat bersama para nabi dan beliau tampil sebagai imam. Seolah-olah Allah swt berfirman tentang peristiwa ini kepada Nabi dan sekaligus kekasih-Nya: “Wahai Muhammad, sesungguhnya masa depan milikmu dan umat sesudahmu, sehingga batas negaramu akan melewati Baitul Maqdis, begitu juga warisan-warisan agama terdahulu berada di pundakmu.”

Sambil shalat di belakang Rasulullah saw, para Rasul Allah itu seolah-olah berkata kepada beliau: “Pergilah menuju Tuhanmu, doa kami selalu bersamamu.” Ketika beliau Mi’raj ke langit, seolah-olah para malaikat di langit berkata kepada beliau: “Jika bumi terasa sempit olehmu, maka langit telah membuka dadanya untukmu. Jika orang-orang yang bodoh dan zalim di antara penduduk bumi menyakitimu, maka penduduk langit telah berdiri menyambut kedatanganmu.”

Semua ini telah menciptakan semangat baru dalam diri Rasulullah saw dan kaum mukminin. Sehingga setelah beliau kembali dari perjalanan yang penuh berkah ini, beliau mulai menawarkan Islam dengan penuh semangat dan optimisme kepada suku-suku dan para delegasi yang datang ke Makkah guna berhaji.

Hingga kemudian Allah memerintahkan Nabi saw untuk berhijrah ke Yatsrib dan mendirikan masyarakat baru yang Islami di sana, dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru Jazirah Arab. Dari sinilah kemudian cahaya Islam menerobos seluruh belahan dunia dan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Wallahu a’lam bissawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar